33 C
Banjarbaru
Selasa, September 22, 2026
spot_img

Studio Mini Dispersip Sesak, Tiga Film Cerita Rakyat Bumi Bersujud Banjir Apresiasi

Kursi yang tersedia tak lagi cukup. Lantai Studio Mini bahkan ikut dipenuhi penonton. Sebagian peserta terpaksa berdiri di bagian belakang ruangan demi menyaksikan tiga film animasi cerita rakyat Tanah Bumbu yang baru saja dirilis.

Pemandangan itu terlihat saat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tanah Bumbu bersama Lembaga Literasi Berinklusi Sosial Komunitas Pegiat Gambar (Kopiambar) Bacarita menggelar nonton bareng tiga film animasi Bumi Bersujud, Selasa (22/9) siang.

Antusiasme masyarakat terhadap film yang mengangkat cerita lokal tersebut memang telah terlihat sejak sebelum pemutaran. Pendaftaran peserta bahkan harus ditutup sehari sebelumnya setelah kuota yang disediakan panitia terpenuhi.

Para pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan aktivis literasi yang hadir tampak memenuhi Studio Mini lantai II Kantor Layanan Umum Dispersip. Keterbatasan kapasitas ruangan tidak menyurutkan minat mereka untuk mengikuti pemutaran hingga selesai.

Alih-alih menjadi kendala, kondisi tersebut justru memperlihatkan besarnya rasa ingin tahu terhadap karya yang membawa cerita rakyat Tanah Bumbu ke layar animasi.

Tiga film yang diputar masing-masing mengangkat kisah Gua Liang Bangkai, Sumur Air Tawar di Kubah Pagatan, dan Legenda Pulau Sewangi.

Ketiganya merupakan cerita rakyat yang sebelumnya diwariskan melalui tuturan dan dokumentasi tertulis. Kini, kisah tersebut memperoleh medium baru melalui film animasi yang memadukan cerita lokal dengan teknologi digital.

Bukan Sekadar Menonton

Antusiasme peserta tidak berhenti ketika layar film ditutup. Sesi diskusi yang digelar setelah pemutaran justru berlangsung hangat.

Peserta aktif memberikan tanggapan dan terlibat dalam pembahasan. Berbagai respons muncul, mulai dari apresiasi terhadap visual film, penggunaan teknologi kecerdasan buatan, hingga pentingnya mengangkat cerita rakyat lokal menjadi karya yang dapat dinikmati generasi muda.

Muklis, salah seorang pegiat literasi yang hadir, menjadi salah satu peserta yang menyampaikan apresiasi. Menurutnya, visualisasi yang ditampilkan dalam film mampu membuat cerita rakyat terasa lebih hidup.

“Visualisasinya sangat keren dan memukau. Meskipun dibuat menggunakan piranti kecerdasan buatan, hasilnya tetap menarik,” ujarnya.

Bagi Muklis, penggunaan teknologi tidak harus membuat cerita lokal kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk membuat warisan cerita daerah lebih mudah diterima oleh generasi yang akrab dengan konten visual.

Apresiasi juga datang dari aktivis Batulicin Community Center (BCC), Asmi. Ia menilai film yang mengangkat legenda lokal tersebut layak menjadi kebanggaan masyarakat Tanah Bumbu.

“Film yang mengangkat legenda lokal ini patut menjadi kebanggaan masyarakat Tanah Bumbu,” katanya.

Menurutnya, semakin banyak cerita lokal yang dikemas dalam bentuk kreatif, semakin besar pula peluang generasi muda mengenal sejarah dan kekayaan budaya daerahnya.

Ketika Cerita Rakyat Menemukan Wajah Baru

Tiga film tersebut merupakan hasil kerja bersama Dispersip dan Kopiambar Bacarita dengan melibatkan Bias Studio Banjarbaru serta penulis skrip Bastari Bayu.

Sumber ceritanya diadaptasi dari buku Cerita Rakyat Bumi Bersujud yang disusun Tim Folklore pada 2025.

Proses produksinya berlangsung hampir enam bulan. Art Producer film, Muzakkir Munzir, menjelaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan digunakan sebagai salah satu piranti dalam proses produksi.

Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap berada dalam proses kreatif yang melibatkan pengembangan cerita, karakter, visual, dan penyusunan alur film.

Kepala Dispersip Kabupaten Tanah Bumbu, Yulia Rahmadhani, mengatakan penggarapan film animasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga cerita rakyat daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Film, menurutnya, dapat menjadi medium alternatif untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Antusiasme yang muncul dalam pemutaran perdana menjadi gambaran bahwa cerita rakyat masih memiliki tempat di tengah masyarakat ketika disajikan melalui medium yang dekat dengan keseharian generasi sekarang.

Cerita tentang Gua Liang Bangkai, Sumur Air Tawar di Kubah Pagatan, dan Legenda Pulau Sewangi yang sebelumnya hadir dalam buku dan tuturan kini mendapatkan wajah baru.

Bukan lagi sekadar cerita yang didengar, tetapi kisah yang dapat dilihat, disaksikan bersama, dan didiskusikan.

Dan siang itu, Studio Mini Dispersip menjadi saksi bahwa ketika cerita dari tanah sendiri dikemas dengan cara yang baru, masyarakat datang bukan sekadar untuk menonton, tetapi juga untuk kembali mengenal kisah yang menjadi bagian dari identitas daerahnya. Bzak

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img