26.1 C
Banjarbaru
Rabu, November 4, 2026
spot_img

Cerita Fauzi, Perajin Penggosok Batu Permata yang Bertahan di Pasar Batuah Martapura

Suara deru mesin penggosok batu permata terdengar bersahutan di tengah aktivitas Pasar Batuah, Jalan A Yani, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di salah satu sudut pasar yang dikenal sebagai pusat perdagangan batu permata tersebut, Fauzi (40) tampak telaten menggosok sebongkah batu menggunakan mesin khusus, Rabu (4/11/2026).

Dengan penuh ketelitian, pria tersebut mengarahkan permukaan batu ke piringan penggosok yang terus berputar. Sesekali, ia memperhatikan bagian batu yang sedang dikerjakan untuk memastikan hasil gosokan sesuai dengan bentuk dan tingkat kehalusan yang diinginkan.

Bagi Fauzi, menggosok batu permata bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, tetapi juga keterampilan yang telah lama ditekuninya. Keahlian tersebut dipelajarinya secara langsung dari sang kakak ketika dirinya masih membujang.

Seiring berjalannya waktu, keterampilan itu menjadi bekal baginya untuk bertahan menjalankan usaha jasa penggosokan batu permata di Pasar Batuah Martapura.

“Ilmu menggosok batu ini saya pelajari langsung dari kakak saya waktu saya masih bujang dulu. Sampai sekarang Alhamdulillah tetap aktif dan bertahan di sini,” ujar Fauzi saat ditemui di kiosnya.

Setiap hari, Fauzi membuka jasa penggosokan batu mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA. Pelanggannya berasal dari kalangan pencinta batu permata yang ingin memperhalus maupun memperindah tampilan batu koleksi mereka.

Untuk tarif jasa, Fauzi mematok harga yang relatif terjangkau. Namun, biaya pengerjaan disesuaikan dengan jenis batu, tingkat kekerasan, serta tingkat kesulitan saat proses penggosokan.

“Kalau batu jenis akik biayanya Rp20.000 per biji. Tapi kalau jenis batu yang lebih keras seperti Yakut, harganya Rp30.000. Setiap jenis batu memang berbeda tingkat kesulitan dan harganya,” tuturnya.

Di balik aktivitas usahanya yang masih berjalan, Fauzi mengaku menghadapi sejumlah kendala. Salah satu persoalan yang cukup mengganggu pekerjaannya belakangan ini adalah pemadaman listrik bergilir di kawasan Martapura.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena hampir seluruh proses penggosokan batu mengandalkan tenaga listrik. Mesin yang digunakan tidak dapat beroperasi ketika pasokan listrik terputus.

Akibatnya, pekerjaan harus dihentikan sementara hingga aliran listrik kembali normal. Situasi itu bahkan membuat aktivitas usahanya terhenti sepenuhnya selama pemadaman berlangsung.

“Selama musim pemadaman listrik bergilir, usaha beranai ae (berhenti total). Pasrah menunggu sampai nyala lagi, baru bisa lanjut kerja,” ungkapnya.

Terhentinya aktivitas mesin tentu berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan harian Fauzi. Selain itu, pekerjaan yang belum selesai juga berpotensi membuat pelanggan harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan batu permata yang telah digosok.

Meski demikian, Fauzi tetap berharap usaha yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun tersebut dapat terus bertahan. Ia ingin aktivitas penggosokan batu permata di Pasar Batuah Martapura kembali berjalan lancar tanpa terkendala pasokan listrik.

“Harapan saya semoga listrik bisa kembali normal dan tidak ada pemadaman lagi. Karena pemadaman ini sangat berpengaruh ke pendapatan sehari-hari. Kalau listrik normal, usaha penggosokan batu di Martapura ini bisa makin rame dan maju,” pungkasnya.

Di tengah perkembangan zaman dan dinamika perdagangan batu permata, Fauzi menjadi salah satu sosok yang masih mempertahankan keterampilan mengolah batu di Martapura. Melalui ketekunan dan keahliannya, ia terus memberikan layanan bagi para pencinta batu permata, sekaligus menjaga keberlangsungan salah satu aktivitas usaha yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Pasar Batuah. BS

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img