Operasi SAR KM Virgo Transport 8 resmi ditutup setelah 53 hari pencarian, hal tersebut bertolak belakang dengan para keluarga yang berharap pencarian terus dilanjutkan.
Mewakili para keluarga korban, Sumarno meminta PT Virgo Karya Shipping tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga kepastian mengenai langkah pencarian selanjutnya.
Apalagi, dua anaknya hingga kini belum ditemukan. Ia mengaku masih menunggu kejelasan nasib kedua anaknya tersebut.
“Jangan memberi harapan palsu saja. Kita selama ini tidak ada kepastian. Makanya nanti kalau bisa kita bertemu lagi dengan pihak Virgo,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).
Sumarno meminta penyelaman kembali dilakukan untuk mencari korban, tanpa harus menunggu proses pengangkatan bangkai kapal atau salvage. Keluarga tidak ingin waktu pencarian semakin panjang hanya karena harus menunggu proses pengangkatan kapal yang diperkirakan bisa memakan waktu hingga 180 hari.
“Kalau bisa dilakukan penyelaman lagi untuk mencari korban. Tidak usah menunggu salvage lama. Kalau salvage sampai 180 hari, itu lama,” tegasnya.
Sumarno berharap pertemuan berikutnya dengan PT Virgo Karya Shipping menghasilkan kejelasan mengenai kelanjutan pencarian, termasuk kemungkinan penyelaman kembali untuk menemukan korban yang masih tertinggal di dalam kapal.
“Semoga saja pertemuan selanjutnya dengan PT Virgo Karya Shipping menemukan titik terang bagi kami para keluarga korban,” harapnya.
Kepala Basarnas Banjarmasin I Putu Sudayana, menjelaskan penutupan Operasi SAR KM Virgo Transport 8 berdasarkan hasil evaluasi bersama seluruh unsur, diantaranya TNI (AD, AL, AU), Polri, Polda Kalsel, Ditpolair, Lanal, Korem, Pemprov Kalsel, BMKG, KSOP, Disnav, hingga unsur kementerian terkait, Brimob dan Samapta, Navigasi, Gubernur Kalsel, Jasa Raharja, dan BPBD Kalsel.
Penutupan operasi ini juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Berdasarkan aturan tersebut, operasi SAR dilaksanakan selama 7 hari dan dapat diperpanjang sesuai hasil evaluasi seluruh unsur SAR yang terlibat.
“Jika ditemukan tanda-tanda korban, operasi akan diperpanjang kembali, namun jika tidak ada, operasi dapat ditutup,” katanya.
Sebelumnya, pencarian korban dilakukan dengan tiga metode pencarian secara maksimal, yaitu pencarian udara (helikopter, pesawat Boeing, dan Chesna), permukaan laut (kapal Basarnas, KRI, dan kapal perusahaan), serta penyelaman di bawah permukaan air.
“Pencarian penyelaman di laut juga sudah dilakukan maksimal oleh tim gabungan, dan selama 53 hari ini tidak ada lagi yang ditemukan oleh penyelam,” paparnya.
Oleh karena itu, operasi SAR resmi ditutup dan dilanjutkan dengan pemantauan. Kendati demikian, apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda korban dan operasi Salvage dapat dilaksanakan, maka operasi SAR akan dibuka kembali. STN![]()








