32.1 C
Banjarbaru
Minggu, November 8, 2026
spot_img

Dari Pantun hingga QRIS, Potret Aktivitas Jual Beli di Pasar Terapung Lok Baintan

Aktivitas jual beli di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sudah dimulai sejak pagi buta. Para pedagang menggunakan jukung atau perahu tradisional untuk menjajakan beragam dagangan kepada pengunjung yang datang menyusuri sungai.

Sejak selepas salat Subuh, para acil (sebutan untuk perempuan dalam masyarakat Banjar) mulai berangkat dari rumah masing-masing menuju lokasi pasar. Salah satunya Acil Lia, pedagang asal Desa Paku Alam RT 2, yang setiap hari Minggu berjualan berbagai kebutuhan, mulai dari buah-buahan, makanan ringan, nasi hingga oleh-oleh khas daerah.

Banjar, 8/11/2026– Acil Lia mengaku sudah terbiasa memulai aktivitas sejak pagi demi mendapatkan pembeli. Berbagai dagangan dibawanya menggunakan perahu untuk menawarkan langsung kepada wisatawan maupun pengunjung pasar.

Di tengah aktivitas transaksi, suasana pasar juga diwarnai interaksi khas masyarakat Banjar. Para pedagang kerap menyapa calon pembeli dengan pantun dan candaan untuk menarik perhatian.

Salah satunya ketika seorang acil menawarkan dagangannya sambil berpantun, “Ayam jantan, ayam betina, dia makan di sarangnya. Kalau acil boleh bertanya, abang ini sudahkah ada yang punya?”

Candaan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam aktivitas jual beli di pasar terapung yang masih mempertahankan tradisi perdagangan di atas sungai.

Meski demikian, perjalanan para pedagang tidak selalu berjalan mudah. Acil Mudah mengungkapkan, salah satu kendala yang pernah dihadapinya saat berjualan adalah kondisi kabut asap yang membuatnya mengalami batuk dan mata berair.

Namun, kondisi tersebut kini sudah tidak lagi dirasakan seperti sebelumnya.

“Dulu kalau musim kabut, batuk-batuk dan mata berair. Tapi sekarang sudah ampih (berhenti),” ujarnya.

Selain menghadapi tantangan kondisi lingkungan, para pedagang juga berharap pengunjung yang datang tidak hanya melihat-lihat dagangan, tetapi turut membeli produk yang mereka tawarkan.

Menurutnya, harga dagangan yang dijual relatif terjangkau. Bahkan, ada sejumlah barang yang ditawarkan mulai Rp10 ribu.

“Harapannya kalau tamu datang ke sini, belilah dagangan kami. Jangan cuma melihat-lihat saja. Banyak yang melihat, tetapi yang membeli masih kurang. Padahal Rp10 ribu saja, kami sudah senang sekali kalau ada yang membeli,” ungkapnya.

Ia berharap Pasar Terapung Lok Baintan semakin ramai dikunjungi wisatawan sehingga seluruh pedagang, baik acil yang berjualan maupun amang-amang (sebutan untuk laki-laki dalam masyarakat Banjar) yang mengemudikan kelotok, bisa memperoleh rezeki.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan di Pasar Terapung Lok Baintan juga mulai mengikuti perkembangan teknologi pembayaran digital. Sejumlah pedagang kini telah menyediakan pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) melalui aplikasi perbankan, termasuk BRImo.

Kemudahan tersebut memberikan alternatif bagi pengunjung yang tidak membawa uang tunai dalam jumlah cukup. Pembeli cukup memindai kode QR yang disediakan pedagang untuk menyelesaikan transaksi.

Hal itu dirasakan Erna, pengunjung asal Kelayan, yang mengaku sudah dua kali mendatangi Pasar Terapung Lok Baintan.

Menurut Erna, suasana pasar terapung saat ini cukup berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika jumlah pedagang dan pengunjung terlihat lebih ramai.

“Dulu pernah ke sini waktu masih ramai sekali. Sekarang kalau datang lagi, terasa jauh berbeda. Pedagangnya agak berkurang. Pagi ini saya cuma membeli sarapan dan buah-buahan dari acil-acil di sini,” tuturnya.

Meski begitu, ia menilai kemudahan pembayaran menggunakan QRIS menjadi salah satu hal positif yang membuat transaksi lebih praktis. Pengunjung tidak harus selalu menyiapkan uang tunai karena pembayaran dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Erna juga menceritakan adanya kendala selama perjalanan menuju Pasar Terapung Lok Baintan. Saat melintasi jalur sungai dari kawasan Banua Anyar menuju Lok Baintan, perahu yang ditumpanginya harus menghadapi tumpukan tanaman eceng gondok atau yang dikenal masyarakat Banjar dengan sebutan ilung.

Tumbuhan air tersebut menghambat laju perahu sehingga perjalanan menjadi lebih lambat.

Keberadaan Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar tempat masyarakat melakukan aktivitas jual beli, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata Kalimantan Selatan.

Aktivitas pedagang yang menjajakan dagangan dari atas jukung, interaksi menggunakan bahasa Banjar, hingga tradisi tawar-menawar menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan.

Harapan para pedagang agar pasar semakin ramai menjadi perhatian penting bagi keberlangsungan wisata budaya tersebut. Dukungan pengunjung dengan membeli dagangan, promosi wisata, serta kemudahan fasilitas transaksi diharapkan mampu membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Dengan demikian, Pasar Terapung Lok Baintan tidak hanya menjadi destinasi wisata untuk dikunjungi dan diabadikan melalui kamera, tetapi juga menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di sungai. BS

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img