Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan, Ir H Syamsir Rahman, M.S, memastikan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap sektor pertanian terus menjadi perhatian pemerintah daerah. Langkah penanganan disiapkan untuk membantu petani sekaligus menjaga produksi pangan tetap berjalan.
Hal tersebut disampaikan Syamsir Rahman di sela peninjauan penanganan karhutla di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, Sabtu (2/9/2026) pagi. Ia menjelaskan, berdasarkan pendataan, terdapat sekitar 8.000 hektare lahan pertanian yang terdampak karhutla.
Dari luasan tersebut, sekitar 2.000 hektare telah mengalami kebakaran. Sementara itu, sekitar 300 hektare di antaranya merupakan lahan yang sudah ditanami sehingga tanaman pertanian ikut terdampak kebakaran.
“Untuk pertanian khusus, kita ada lokasi sebanyak 8.000 hektare yang terdampak dan yang sudah terkena kebakaran kurang lebih sekitar 2.000 hektare. Dari 2.000 hektare tersebut, sekitar 300 hektare sudah ada tanamannya dan ikut terbakar,” jelas Syamsir.
Ia mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan kepada petani yang lahannya mengalami kebakaran. Bantuan tersebut berupa benih dan bibit yang diharapkan dapat membantu petani melakukan penanaman kembali setelah kondisi lahan memungkinkan.
“Nanti untuk yang terbakar ini akan kita berikan bantuan, berupa benih dan bibit agar mereka bisa menanam kembali,” ujarnya.
Di tengah dampak karhutla dan kondisi kekeringan, Syamsir menegaskan produksi pangan tetap harus dijaga sesuai arahan Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin. Komoditas strategis seperti padi dan jagung diupayakan tidak mengalami penurunan produksi secara signifikan.
“Pak Gubernur menyarankan untuk produksi, baik padi maupun jagung, tidak boleh turun,” katanya.
Syamsir menyebutkan, hingga September 2026 produksi padi Kalsel telah mendekati angka 1,14 juta ton. Ia optimistis capaian tersebut dapat dipertahankan sehingga produksi tahun ini relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah sampai hari ini, sampai dengan bulan September, produksi padi kita sudah mendekati angka 1.140.000. Insya Allah akan sama dengan tahun-tahun yang lewat,” ungkapnya.
Menurutnya, jika terdapat sedikit penurunan produksi, salah satu faktor yang memengaruhi adalah kondisi kekeringan yang menyebabkan sebagian bulir padi mengalami kehampaan. Namun, potensi produksi dari wilayah yang tidak terdampak diharapkan dapat membantu menutupi kekurangan tersebut.
Ia mencontohkan wilayah Hulu Sungai Utara yang memiliki potensi lahan rawa lebak untuk mendukung produksi pangan. Lahan yang sebelumnya tidak dapat ditanami pada kondisi tertentu kini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, sehingga turut membantu menjaga ketersediaan pangan Kalsel.
“Insya Allah kondisi pangan kita, Pak Gubernur tetap memperhatikan dan aman. Sampai dengan tahun 2027, insya Allah kita aman. Di bulan ke-6 nanti baru kita masuk lagi di bulan ke-7 dengan produksi yang untuk memberi makan masyarakat Kalimantan,” tutup Syamsir. As![]()








