36 C
Banjarbaru
Selasa, September 15, 2026
spot_img

Galuh Ghina Bawa “Tapandang”, Cara Unik Lestarikan Budaya Tanah Laut Lewat Flora Lokal

Pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari panggung kesenian atau pakaian adat. Mengenal tumbuhan yang tumbuh di sekitar masyarakat juga bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga warisan budaya.

Gagasan itulah yang diangkat Syamila Ghina Tiara Putri, Galuh Wakil I Tanah Laut 2026, melalui advokasi bertajuk “Tapandang: Taangkat Palastarian Budaya Saurang.”

Ghina mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai sekaligus melestarikan budaya melalui kekayaan flora lokal.

Kepada inikalsel.id, Senin (14/9/2026), Ghina menjelaskan bahwa gagasannya berangkat dari keinginan untuk mendekatkan pelestarian budaya dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.

“Saya ingin mengajak generasi muda melihat bahwa budaya itu tidak hanya tentang kesenian, pakaian adat, bahasa atau tradisi. Tumbuhan yang ada di sekitar kita juga memiliki cerita dan nilai budaya yang perlu kita kenali dan lestarikan,” ujar Ghina.

Menurutnya, tumbuhan lokal tidak hanya memiliki nilai ekologis. Di dalamnya terdapat manfaat, pengetahuan, cerita, simbol hingga kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kalau kita tidak mengenal apa yang ada di sekitar kita, bagaimana kita bisa mencintai dan menjaganya? Karena itu, Tapandang saya mulai dari mengenal, memahami, kemudian mengenalkan kembali kepada generasi muda,” katanya.

Jejak Tapandang, Aksi Langsung ke Masyarakat

Salah satu aksi dalam advokasi ini adalah Jejak Tapandang. Program tersebut menjadi ruang edukasi langsung bagi generasi muda dan masyarakat untuk mengenal flora lokal sekaligus memahami kaitannya dengan budaya.

Edukasi dapat dilakukan di sekolah, kampus, komunitas hingga lingkungan masyarakat.

Materinya mencakup tumbuhan yang dimanfaatkan dalam tradisi, pangan, pengobatan, ritual maupun berbagai kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan tersebut, generasi muda tidak hanya mendengar tentang budaya, tetapi juga diajak melihat dan mengenal langsung kekayaan alam yang ada di daerahnya.

Lensa Tapandang, Budaya Masuk ke Dunia Digital

Selain aksi langsung, Ghina juga menghadirkan Lensa Tapandang.

Program ini berfokus pada dokumentasi dan digitalisasi pengetahuan mengenai flora lokal beserta nilai budayanya.

Informasi tentang tumbuhan, manfaat, cerita, tradisi dan kearifan lokal akan dikemas dalam bentuk konten edukatif yang menarik serta mudah diakses generasi muda.

Ghina berharap dokumentasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

“Generasi muda sekarang sangat dekat dengan dunia digital. Jadi, pelestarian budaya juga harus hadir di ruang yang mereka gunakan setiap hari. Melalui Lensa Tapandang, saya ingin pengetahuan tentang flora dan budaya lokal bisa lebih mudah dikenal dan dibagikan,” tuturnya kepada inikalsel.id.

Melalui Jejak Tapandang dan Lensa Tapandang, Ghina ingin menjadikan pelestarian budaya sebagai gerakan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.

Melihat melalui aksi nyata, mengangkat melalui dokumentasi dan meneruskan melalui edukasi.

Menurut Ghina, menjaga budaya bukan hanya tugas pemerintah maupun pelaku seni. Setiap orang memiliki peran untuk mengenal, menjaga, mendokumentasikan dan mewariskannya.

“Budaya tidak akan tetap hidup hanya karena kita bangga terhadapnya. Harus ada kemauan untuk mengenal, menjaga, mendokumentasikan dan mewariskannya. Saya berharap Tapandang bisa menjadi langkah kecil yang mengajak lebih banyak anak muda ikut bergerak,” pungkasnya. Dede

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img