Terik matahari siang itu terasa menyengat. Di tengah hamparan gabah yang sedang dijemur, sosok Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Ir H Syamsir Rahman, M.S., tampak tak sekadar berdiri mengamati. Ia turun langsung, menjemur dan merawat gabah agar kadar airnya berkurang dan kualitas hasil panen tetap terjaga.
Dengan sederhana, Syamsir memperlihatkan bahwa urusan pertanian bukan hanya berbicara tentang angka produksi, luas lahan, atau program pemerintah. Di balik setiap butir beras, ada proses panjang yang membutuhkan ketekunan, kesabaran dan perjuangan para petani.

Bagi Syamsir, berada di tengah aktivitas petani menjadi bagian dari upaya untuk memahami secara langsung denyut kehidupan mereka. Panas matahari yang dirasakan saat menjemur padi seolah menjadi pengingat bahwa pangan yang sampai ke meja makan masyarakat lahir dari kerja keras yang tidak ringan.
“Hidup ini adalah perjuangan. Apapun yang bisa kita lakukan adalah bermanfaat untuk semua orang,” ujar Syamsir, Selasa (8/9/2026).
Ia mengatakan, setiap pekerjaan yang dijalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh harus dimaknai sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Karena itu, ia mengajak untuk menjalani setiap amanah dengan sebaik-baiknya serta menerima ketetapan Allah dengan penuh keyakinan.
“Jalani apa yang ditakdirkan Allah, karena itu pasti yang terbaik yang dipilihkan-Nya,” tuturnya.
Bagi Syamsir, perjuangan petani juga tidak berhenti pada proses menanam dan memanen. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pertanian memiliki nilai ekonomi yang layak sehingga kehidupan petani semakin sejahtera dan profesi tersebut tetap memiliki masa depan bagi generasi muda.
Pandangan itu sejalan dengan pesan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya membangun kesejahteraan petani. Menurut Prabowo, petani harus memiliki kehidupan yang makmur sehingga profesi bertani menjadi pekerjaan yang membanggakan dan menarik bagi anak-anak petani untuk meneruskannya.
“Kita harus bikin petani makmur. Jadi anaknya petani, mau jadi petani,” demikian pesan Presiden Prabowo yang dikutip Syamsir.
Ia kemudian menggambarkan bagaimana profesi petani di sejumlah negara maju, termasuk Jerman, dapat memberikan kehidupan yang layak. Petani tetap dapat bekerja di ladang pada sore hari, namun memiliki penghasilan dan kualitas hidup yang memungkinkan mereka menikmati kehidupan sebagaimana masyarakat pada umumnya.
“Seperti di Jerman, di mana-mana. Dia kerja di ladang sore, dia naik mobil. Saya pernah ke desanya Jerman,” ujar Prabowo dalam penyampaiannya yang dikutip Syamsir.
Bagi Syamsir, gambaran tersebut menjadi refleksi bahwa membangun pertanian bukan semata meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memastikan orang-orang yang berada di balik produksi pangan itu dapat hidup sejahtera.
Aktivitas sederhana menjemur padi akhirnya menjadi gambaran yang lebih luas tentang perjuangan menjaga ketahanan pangan. Dari hamparan gabah yang terpapar matahari, tersimpan harapan agar petani Kalsel semakin dihargai, semakin sejahtera, dan memiliki alasan kuat untuk terus bertani serta mewariskan profesinya kepada generasi berikutnya. As![]()








