Di suatu pagi di Kota Banjarmasin, sebuah rumah nampak terlihat sibuk. Tampak belasan gulungan tikar rotan atau yang dikenal dengan “lampit rotan” tersusun rapi di dinding rumah itu. Tak lama setelahnya muncul seorang pria yang tampak merekatkan plastik pembungkus dengan menggunakan lakban. Tangannya terampil memastikan kemasan tertutup dengan rapat. Ternyata barang-barang tersebut akan segera dikirim, di teras rumahnya, sebuah mobil pickup JNE berhenti menunggu paket-paket yang akan segera dikirim tersebut.
Pria yang diceritakan diatas bernama “Aspi”, merupakan pelaku usaha online yang telah lama berkecimpung di dunia usaha online sejak hampir dua dekade yang lalu. Produk yang dijualnya adalah “lampit rotan” kerajinan khas Kalimantan yang secara rutin dikirimnya ke berbagai kota melalui layanan JNE setiap harinya.
Ada satu hal yang menarik dari profesinya, ternyata ia adalah seorang dosen yang bekerja pada salah satu kampus swasta di Banjarmasin. Aspi berhasil membagi waktunya untuk menjadi dosen sekaligus menjadi pelaku usaha online. Pagi-pagi sekali waktunya digunakan untuk menyiapkan paket-paket yang akan dikirimnya, sebelum berangkat kekampus tempatnya mengajar.
Aspi telah lama berkecimpung dalam dunia usaha online, tepatnya sejak tahun 2007 dimana saat itu ia masih berstatus mahasiswa. Berjualan online merupakan jalan yang ditempuhnya untuk membiayai kuliahnya. Saat itu marketplace online masih belum seperti sekarang, tepatnya belum ada marketplace modern dengan sistem pembayaran yang terhubung otomatis dengan fitur pengirimannya. Penjualan online dilakukan dengan memanfaatkan forum atau medsos seperti Kaskus dan Facebook. Penjual online harus aktif untuk menawarkan dagangannya, pembelipun sangat berhati-hati untuk melakukan pembelian online karena rawannya penipuan secara online.
“Dulu berjualannya lewat forum Kaskus ramai sekali,” kenangnya.
Sebelum berjualan lampit rotan, Aspi telah menjual berbagai produk-produk khas Kalimantan seperti aksesoris, perhiasan, peralatan rumah tangga sampai berbagai batu permata. Dari berbagai produk tersebut, Aspi melihat lampit rotan memiliki permintaan dan harga yang relatif stabil. Sebagai tikar tradisional khas Kalimantan yang cukup dikenal luas, selain digunakan sebagai alas lantai, lampit rotan juga sering dijadikan dekorasi interior rumah, penginapan, rumah makan, kafe, hingga perkantoran.
Seiring waktu, dari usaha onlinenya ini, Aspi bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membiayai kuliah S1 hingga S2-nya. Bahkan sebelumnya sempat beberapa tahun ia memperkejakan 4-5 orang karyawan untuk membantunya, meskipun saat ini semua dilakukannya sendiri dibantu keluarganya.
“Sewaktu masih kuliah dulu, sebelum ngampus biasanya saya singgah ke kantor JNE cabang Banjarmasin untuk setor barang.” Katanya.

Waktu itu kantor JNE cabang Banjarmasin menjadi tempat yang didatanginya hampir setiap hari. JNE sudah menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya sejak awal merintis bisnis online. Dari masa forum internet hingga era marketplace modern sekarang, JNE menjadi penghubung dirinya yang berada di Banjarmasin dengan pelanggan di seluruh wilayah Indonesia.
“Sebenarnya tidak gampang membagi waktu antara tugas kuliah dan berjualan online, terutama kita perlu menyediakan waktu untuk membalas berbagai pertanyaan calon pembeli” katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Walau melelahkan, rutinitasnya tersebut ternyata menjadi jalan penting dalam hidupnya. Dari hasil berjualan online itulah ia mampu bertahan membiayai kuliahnya hingga akhirnya menyelesaikan pendidikannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya, ia memutuskan tetap menjalankan usaha online yang telah lama dijalaninya. Walaupun ia telah berprofesi sebagai dosen, ia tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkan usaha onlinenya, usaha yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
“Usaha ini sudah menemani saya sejak kuliah. Jadi tetap saya jalankan sampai sekarang,” tuturnya.
Tiap harinya aktivitas packing paket jualan onlinenya dilakukan hampir tiap hari. Lampit rotan membutuhkan teknik pengemasan khusus mengingat dimensi ukurannya yang besar, ini semua dilakukan agar paket aman diperjalanan sampai ke rumah pelanggan. Lampit rotan harus digulung dengan rapi sebelum dibungkus plastik tebal dan karung, dan diperkuat lagi dengan lakban.
Kegiatan ini dilakukan bersama keluarganya dirumah. Di dalam rumahnya kita akan langsung melihat tumpukan-tumpukan lampit rotan di sebagian ruangan, baik yang sudah siap kirim ataupun yang belum di packing.
Perkembangan marketplace saat ini sangat memudahkan pembeli untuk melakukan pembelian secara online. Berbeda dengan sebelumnya ketika penjualan online hanya mengandalkan forum dan medsos, pembeli banyak yang ragu untuk bertransaksi karena takut menjadi korban penipuan. Sekarang ini, dengan sistem marketplace modern, pembeli dapat melakukan transaksi dengan jauh lebih mudah dan aman.
“Sekarang lebih mudah karena marketplace sudah lengkap. Pembeli juga lebih percaya,” katanya.
Pada awalnya Aspi harus menguras waktu dan tenaganya untuk bolak-balik mengantar paket ke kantor JNE secara mandiri. Apalagi dengan ukuran lampit rotan yang besar. Bahkan sebelum berangkat mengajar, Aspi perlu memastikan seluruh paket sudah diantar agar dapat diproses pada hari yang sama.
Namun seiring waktu, kantor JNE Cabang Banjarmasin melihat potensi pengiriman dari usaha yang dijalankan oleh Aspi hingga menawarkan layanan penjemputan barang langsung ke rumah secara gratis. Ini membuat kegiatan usaha online Aspi jadi lebih efisien. Setiap hari tim pickup JNE Cabang Banjarmasin datang langsung ke rumah Aspi untuk mengambil paket-paket yang akan dikirim.
“Tawaran pickup rutin ke rumah oleh JNE Cabang Banjarmasin ini sangat membantu, apalagi dengan order yang mulai banyak” ujarnya.
Pelanggan lampit rotan ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak sedikit pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan kantor, rumah makan, hotel dan cafe. Motif lampit rotan yang bergaya tradisonal sangat cocok digunakan sebagai dekorasi ruangan, keunikannya mencerminkan budaya serta kearifan lokal.
Bagi Aspi, JNE bukan sekadar jasa pengiriman barang. Ada perjalanan panjang yang ikut tumbuh bersama usahanya sejak masih duduk di bangku kuliah. Dari mengantar paket sendiri, mencetak resi pengiriman, mengangkat gulungan lampit rotan ke kantor JNE, hingga kini mendapatkan layanan pickup rutin setiap hari.
Di balik setiap paket lampit rotan yang dikirim melalui JNE, terdapat usaha yang berkembang, jarak yang terhubung, mimpi yang terantarkan, hingga kebahagiaan sederhana yang hadir lewat sebuah kiriman. Dari rumah sederhana di Banjarmasin, produk khas Kalimantan itu kini mampu menjangkau pelanggan di berbagai kota di Indonesia.
Dari pengalamannya menjalankan usaha online, ada poin penting yang sangat perlu diperhatikan oleh pelaku usaha tersebut. Menurut Aspi, kepercayaan pelanggan tidak hanya bergantung dari kualitas produk yang dijual, tetapi juga proses pengiriman yang aman dan cepat. Baginya keberadaan JNE menjadi aspek penting dalam menjaga kepuasan pelanggannya.
Rutinitas sederhana yang dijalani oleh Aspi menunjukkan ketekunan dan adaptasi seseorang terhadap perkembangan zaman. Ditengah masifnya perkembangan online marketplace dengan berbagai produk-produk modern serta persaingannya yang sangat ketat. Aspi tetap memilih menjual lampit rotan yang dulu belum menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Tidak berlebihan jika dikatakan ia turut berperan dalam mempertahankan produk tradisional yang menjadi ciri khas Kalimantan. Tentunya hal ini memungkinkan dengan internet dan dukungan pengiriman yang dapat diandalkan dari JNE.
“Kalau bukan kita yang mengenalkan produk daerah sendiri, siapa lagi,” ucapnya.
Bagi Aspi, lampit rotan memiliki nilai sejarah dan seni, lampit rotan menjadi salah satu kerajinan lokal yang menjadi ciri khas dan identitas budaya Kalimantan.
Dari perjalanan Aspi ini kita dapat melihat bagaimana perkembangan teknologi digital sebenarnya mampu membuka peluang usaha bagi siapa saja, ini dibuktikannya dengan memulai usaha ini sejak menjadi mahasiswa. Bermula dari forum online yang sederhana di tahun 2007, usaha kecil yang dimulainya dengan modal seadanya saat awal kuliah, untuk membantunya memenuhi biaya kuliahnya, telah berkembang menjadi bisnis yang rutin dikirim setiap hari melalui JNE ke berbagai wilayah di Indonesia.
Setiap lakban yang direkatkan pada gulungan tikar, setiap resi JNE yang tercetak, dan setiap paket yang diangkat menuju mobil pickup JNE menjadi simbol perjalanan panjang seorang dosen yang tidak pernah melupakan akar perjuangannya. Di rumah sederhana yang dipenuhi gulungan lampit rotan itu, Aspi terus melanjutkan perjuangannya. Mengajar di ruang kelas sambil tetap menjaga denyut usaha tradisional khas Kalimantan agar terus hidup di era modern. Aspi membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi dapat membuka jalan kesuksesan tanpa harus meninggalkan budaya daerah sendiri. Bs![]()










