25.5 C
Banjarbaru
Jumat, Mei 15, 2026
spot_img

Dari Hobi Menulis Sejak SD, Taufik Nor Sudah Lahirkan 9 Buku

Kegemaran menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar membawa Taufik Nor terus berkarya hingga berhasil melahirkan sedikitnya sembilan buku.

Dunia literasi yang awalnya hanya menjadi hobi, kini berkembang menjadi wadah motivasi bagi kalangan muda untuk mulai gemar menulis dan meningkatkan budaya literasi di Bumi Tuntung Pandang.

Taufik Nor menceritakan, bakat menulis sudah mulai terlihat sejak masih duduk di bangku SD hingga SMP. Bahkan tulisan-tulisannya sempat dikenal dan dimuat di majalah dinding sekolah.

“Memang dari kecil sudah suka menulis. Waktu SMP tulisan saya cukup dikenal di mading sekolah,” ujarnya kepada inikalsel.id, Jumat (15/5/2026).

Perjalanan menulis buku dimulai melalui berbagai karya antologi. Hingga akhirnya pada tahun 2017 ia menerbitkan buku tunggal pertamanya berjudul Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa.

Buku tersebut membahas bagaimana menjadi sosok guru yang disenangi dan dicintai murid. Menurutnya, buku itu mendapat respons positif dan menjadi titik awal meningkatnya rasa percaya diri untuk terus berkarya.

“Buku pertama itu cukup booming dan menjadi motivasi untuk terus menulis,” katanya.

Setelah itu, ia aktif menulis artikel di berbagai surat kabar, khususnya media di Banjarmasin. Namun pada periode 2017 hingga 2019, fokusnya lebih banyak diarahkan pada dunia pendidikan.

Beberapa buku lain yang pernah ditulis di antaranya Naik Pangkat Apa Susahnya, Guru Sang Mentor Idola, hingga Mantan Terindah meski buku terakhir tersebut tidak dipublikasikan secara luas.

Selain itu, ia juga menulis buku tentang perjalanan pendidikan S2 serta dua buku inovasi pembelajaran yang hingga kini masih digunakan sejumlah guru.

Salah satu inovasi pembelajaran yang cukup dikenal yakni model APAM atau Arisan Pemecahan Masalah, yang mengangkat pendekatan kearifan lokal untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Ia juga turut menyusun buku muatan lokal budaya Banjar bernuansa Tanah Laut yang digunakan siswa kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar di Kabupaten Tanah Laut sebagai buku referensi pembelajaran.

Dalam waktu dekat, Taufik Nor kembali bersiap meluncurkan buku terbaru berjudul Jangan Salah Meletakkan Kasih Sayang, Menata Hati Menuju Hidayah Lahir.

Buku tersebut mengangkat fenomena kehidupan anak muda masa kini yang dinilai sering salah menempatkan rasa kasih sayang sehingga berujung luka dan penyesalan.

“Kadang kasih sayang itu ditempatkan di tempat yang salah. Akhirnya bukan bahagia yang didapat, tapi justru luka,” ungkapnya.

Buku terbaru itu dikemas dengan gaya bahasa ringan, puitis, dan menggunakan pendekatan senandika atau sudut pandang orang pertama agar lebih dekat dengan generasi muda.

“Sasarannya memang anak muda, jadi bahasanya dibuat sederhana dan sesuai gaya anak muda sekarang,” tambahnya.

Saat ini total terdapat sekitar sembilan buku yang telah ia tulis. Sementara melalui komunitas Ikatan Penulis Tanah Laut (IPTL) yang dipimpinnya, sudah ada empat buku yang berhasil diterbitkan.

Ia menjelaskan, IPTL secara rutin menggelar agenda literasi setiap bulan dengan tema berbeda-beda. Salah satunya mengangkat tema Hari Buku Sedunia yang saat ini tengah memasuki tahap penutupan naskah sebelum diterbitkan bulan depan.

Menurutnya, komunitas tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin belajar dan mengirimkan karya tulisan.

“Harapan terbesar kami bagaimana bisa menjadi jembatan untuk meningkatkan literasi masyarakat, khususnya generasi muda di Tanah Laut,” ujarnya.

Ia berharap karya-karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga mampu memotivasi masyarakat agar mulai berani menulis dan berkarya.

Adapun buku-buku tersebut saat ini dapat dibaca dan dipinjam melalui Perpustakaan Kabupaten Tanah Laut. Dede

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img