Kondisi pengelolaan kawasan wisata Pantai Takisung kembali menjadi sorotan. Sejumlah fasilitas yang ada di destinasi wisata andalan Kabupaten Tanah Laut tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian maksimal, sehingga perawatan dan operasional sehari-hari banyak bergantung pada swadaya masyarakat.
Hal itu disampaikan Kepala UPT Wisata Pantai Takisung, Hermawan, saat diwawancarai inikalsel.id, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, berbagai usulan pembangunan dan perbaikan fasilitas Pantai Takisung telah beberapa kali diajukan secara resmi sejak tahun 2020. Namun hingga kini banyak usulan yang belum mendapat tindak lanjut.
“Saya sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan Pantai Takisung, mulai dari tahapan pembangunan jangka panjang hingga perbaikan fasilitas yang mendesak seperti gazebo. Tetapi usulan-usulan tersebut tidak disetujui,” ujarnya.

Hermawan menjelaskan, pihaknya juga pernah mengusulkan pembangunan gazebo, pagar kawasan, hingga penataan pasar wisata melalui proposal resmi yang disampaikan kepada pemerintah daerah dan DPRD. Namun sampai sekarang belum ada kepastian realisasi.
Selain pembangunan fisik, ia mengaku kesulitan menjalankan operasional harian karena keterbatasan anggaran.
“Kami tidak memiliki dana operasional untuk perbaikan fasilitas, bahkan untuk kebutuhan listrik, air, maupun bahan bakar. Semua dilakukan dengan kemampuan yang ada dan banyak dibantu masyarakat,” katanya.
Kendaraan Operasional Sering Bermasalah
Hermawan juga menyoroti kondisi kendaraan operasional pengangkut sampah yang digunakan di kawasan wisata.
Menurutnya, kendaraan yang diterima merupakan kendaraan bekas sehingga sering mengalami kerusakan.
“Baru beberapa bulan digunakan sudah rusak lagi. Ketika masuk bengkel, kami juga kesulitan karena tidak ada kendaraan pengganti untuk operasional kebersihan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa selama ini pihaknya telah menjalankan seluruh prosedur pengajuan yang diperlukan, namun berbagai kebutuhan tersebut belum mendapatkan respons yang memadai.
Gazebo Bocor dan Fasilitas Kurang Terawat
Keterbatasan anggaran berdampak langsung pada kondisi fasilitas wisata. Salah satu yang paling dikeluhkan pengunjung adalah gazebo yang atapnya bocor saat musim hujan.
Untuk mempertahankan fungsi gazebo, pengelola bersama masyarakat terpaksa memasang terpal sebagai penutup sementara.
“Kalau tidak ditutup terpal, pengunjung tidak punya tempat berteduh. Saat hujan gerimis saja banyak yang langsung pulang karena tidak ada tempat bernaung,” kata Hermawan.
Ia menambahkan, penghijauan di kawasan pantai juga sebagian besar dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Sebagian Fasilitas Dibangun dari Bantuan dan Swadaya
Hermawan menjelaskan bahwa sejumlah fasilitas yang ada saat ini tidak seluruhnya dibangun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Laut.
Tiang lampu penerangan kawasan, misalnya, menurutnya merupakan pembangunan dari instansi lain pada tahun-tahun sebelumnya. Sementara bangunan WC yang ada saat ini merupakan bantuan dari pemerintah provinsi melalui proyek penggantian fasilitas yang terdampak pembangunan jembatan.
Adapun fasilitas yang dibangun langsung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Laut selama dirinya bertugas di Pantai Takisung antara lain Menara Pantau, panggung, area swafoto, musala, dan pendopo.
Meski demikian, ia menilai hasil rehabilitasi beberapa fasilitas belum memberikan perubahan signifikan.
“Secara tampilan memang lebih bagus, tetapi dari sisi fungsi masih banyak persoalan. Misalnya WC yang tetap bermasalah dan bangunan yang masih kemasukan air saat hujan,” ujarnya.
Keluhan Pengunjung Masih Didominasi Soal Fasilitas
Sementara itu, Petugas Pengelola Lapangan Pantai Takisung, Mukti Ali, mengatakan keluhan pengunjung paling banyak berkaitan dengan kondisi gazebo dan fasilitas pendukung lainnya.
Menurutnya, saat musim hujan atap gazebo yang bocor menjadi persoalan utama karena mengurangi kenyamanan wisatawan.
“Yang paling sering dikeluhkan pengunjung adalah gazebo yang bocor. Padahal fasilitas itu sangat vital karena menjadi tempat berteduh pengunjung,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga menyoroti penataan warung yang dinilai terlalu rapat sehingga mengurangi kenyamanan dan akses pandang pengunjung.
Mukti berharap perbaikan fasilitas dasar dapat menjadi prioritas agar wisatawan merasa lebih nyaman dan betah berkunjung ke Pantai Takisung.
Warga Minta Perhatian Lebih Serius
Keluhan serupa juga disampaikan warga sekitar kawasan wisata. Mereka menilai masih banyak fasilitas yang perlu diperbaiki dan ditambah agar Pantai Takisung semakin menarik bagi wisatawan.
Menurut warga, keberadaan Pantai Takisung selama ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar sehingga pengembangan kawasan wisata sangat diperlukan.
“Kalau fasilitasnya diperbaiki dan ditambah, pengunjung pasti lebih nyaman dan betah berlama-lama di sini,” ujar salah seorang warga.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap
pengembangan dan pemeliharaan fasilitas Pantai Takisung agar destinasi wisata tersebut mampu bersaing dan terus menjadi penggerak ekonomi warga setempat. Dede![]()










