Pulau Sewangi di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, telah lama dikenal sebagai sentra pembuatan kapal dan perahu tradisional berbahan kayu. Namun, di balik keterampilan para pengrajinnya, keberlangsungan tradisi yang diwariskan selama puluhan tahun ini kini menghadapi tantangan regenerasi.
Oteh, salah seorang pengrajin perahu tradisional yang telah menekuni profesinya selama lebih dari 30 tahun, mengkhawatirkan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan pekerjaan tersebut. Ia bahkan memperkirakan tradisi pembuatan perahu di Pulau Sewangi dapat berakhir pada 2045 jika tidak ada generasi penerus.
Dalam keterangannya pada Selasa (20/10/2026), Oteh menceritakan bahwa dirinya mulai belajar membuat kapal sejak duduk di bangku kelas IV sekolah dasar dengan mengikuti pengrajin lain.
“Saya belajar membuat kapal dengan ikut orang lain sejak kelas 4 SD. Sekarang sudah lebih dari 30 tahun menekuni profesi ini,” ujar Oteh.
Menurutnya, proses pembuatan satu unit perahu tradisional membutuhkan waktu rata-rata sekitar satu setengah bulan. Lama pengerjaan bergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan perahu yang dibuat.
Dari sisi ekonomi, harga perahu tradisional bervariasi sesuai ukuran. Perahu berukuran kecil dijual dengan harga sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta, sedangkan kapal berukuran besar dapat mencapai Rp80 juta.
Di balik nilai ekonomi tersebut, Oteh menilai keberlangsungan profesi pembuat perahu menghadapi persoalan serius. Minat generasi muda yang semakin berkurang menjadi salah satu faktor yang mengancam kelestarian keterampilan tradisional di Pulau Sewangi.
“Kemungkinan kami adalah generasi terakhir, dan diperkirakan pada tahun 2045 tradisi ini akan habis,” ungkap Oteh.

Ia menjelaskan, keengganan anak muda untuk meneruskan pekerjaan sebagai pembuat perahu turut dipengaruhi keinginan mereka mencari pekerjaan di bidang lain. Di sisi lain, para orang tua juga berharap anak-anak mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik dan tidak harus menghadapi beratnya pekerjaan yang selama ini mereka jalani.
“Anak-anak tidak mau meneruskan dan lebih memilih mencari pekerjaan di tempat lain. Dari kami para orang tua sendiri juga tidak ingin anak-anak bernasib sama kerasnya seperti kami,” tambahnya.
Bagi Oteh, pembuatan perahu bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan keterampilan yang membutuhkan ketekunan, pengalaman, dan proses belajar dalam waktu panjang. Tanpa penerus yang bersedia mempelajarinya, pengetahuan dan teknik yang selama ini diwariskan antargenerasi berisiko semakin berkurang.
Kekhawatiran tersebut juga terlihat dalam kehidupan keluarganya. Oteh menceritakan bahwa anak pertamanya kini telah memasuki semester akhir di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, dan bersiap meniti karier di bidang lain.

Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi para pengrajin perahu tradisional di Pulau Sewangi dalam mempertahankan keberlanjutan profesi mereka. Di tengah perubahan pilihan pekerjaan generasi muda, pelestarian keterampilan pembuatan perahu kayu membutuhkan perhatian agar tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat tidak terputus.
Prediksi kepunahan pada 2045 yang disampaikan Oteh menjadi peringatan mengenai pentingnya regenerasi pengrajin. Meski demikian, keberlangsungan tradisi tersebut masih bergantung pada perkembangan minat generasi penerus dan upaya pelestarian yang dilakukan ke depan. BS![]()








