Kiprah literasi Sri Supadmi kembali bertumbuh melalui karya terbaru. Penulis asal Tanah Bumbu ini meluncurkan buku _Kepala Sekolah sebagai Agen Perubahan,_ yang mengangkat peran strategis kepemimpinan sekolah dalam mendorong transformasi pendidikan.
Peluncuran buku tersebut dirangkai dengan peluncuran antologi cerpen _Ada Pelangi Selepas Hujan,_ karya kepala sekolah, guru, dan peserta didik SMP Negeri 2 Kusan Hulu, di Gimme Cafe, Simpang Empat, Batulicin, Minggu (18/10).
Dua buku yang diluncurkan ini menghadirkan pesan berbeda, tetapi bertemu pada satu semangat: menebarkan inspirasi melalui tulisan. Jika _Kepala Sekolah sebagai Agen Perubahan_ menyoroti pentingnya kepemimpinan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, _Ada Pelangi Selepas Hujan_ menyuguhkan kisah-kisah kehidupan yang mengajak pembaca menemukan harapan di tengah kesulitan.
Antologi _Ada Pelangi Selepas Hujan_ mengingatkan bahwa masa sulit bukanlah akhir dari perjalanan. Sebagaimana pelangi yang hadir setelah hujan, selalu ada harapan, kesempatan untuk bangkit, dan kemungkinan meraih kebahagiaan setelah melewati berbagai ujian kehidupan. Kumpulan cerita ini pun menjadi ruang bagi para penulis di lingkungan sekolah untuk menyampaikan refleksi dan pesan positif kepada pembaca.
Sementara itu, buku _Kepala Sekolah sebagai Agen Perubahan_ karya Sri Supadmi mengulas peran penting kepala sekolah dalam menggerakkan perubahan di lingkungan pendidikan. Transformasi sekolah, sebagaimana digambarkan dalam buku tersebut, membutuhkan kepemimpinan yang berkomitmen, gagasan yang relevan, serta langkah nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Bumbu, Amiludin, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para penulis yang telah melahirkan karya tersebut. Ia berharap peluncuran buku ini menjadi pemantik bagi semakin banyak pendidik dan peserta didik untuk mengembangkan budaya literasi melalui kegiatan menulis.
“Selamat kepada para penulis yang telah meluncurkan karya bukunya. Semoga karya ini menjadi awal yang baik untuk terus berkarya dan menginspirasi guru serta peserta didik lainnya agar berani menuangkan gagasan melalui tulisan,” ujar Amiludin.
Apresiasi juga datang dari anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Syafruddin H. M. Noor, yang akrab disapa Bang Dhin. Ia berharap semakin banyak penulis yang menggali sejarah, identitas, dan potensi lokal daerah sebagai bahan tulisan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Saya mengucapkan selamat dan memberikan apresiasi atas peluncuran karya ini. Mudah-mudahan ke depannya semakin banyak penulis yang mengangkat cerita dan potensi lokal, salah satunya Pulau Burung yang dikenal dengan sebutan berbeda-beda. Hal seperti ini menarik untuk ditulis agar sejarah dan identitas daerah tetap dikenal oleh generasi mendatang,” kata Bang Dhin.
Di tengah perkembangan digitalisasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tantangan dunia kepenulisan turut menjadi perhatian. Jurnalis Radar, Zulqarnain, menilai kemudahan menghasilkan tulisan harus diimbangi dengan kekuatan gagasan dan nilai yang bermanfaat bagi pembaca.
“Di era digitalisasi dan kecerdasan buatan, tulisan bisa diproduksi dengan sangat mudah, bahkan dalam waktu singkat. Karena itu, hal terpenting dalam kepenulisan adalah menghadirkan tulisan yang memiliki nilai, menawarkan perspektif, dan memberikan makna bagi pembaca. Tulisan yang baik bukan hanya tentang banyaknya kata, tetapi juga pemikiran yang ditinggalkan,” ungkap Zulqarnain.
Pandangan senada disampaikan cerpenis Kalimantan Selatan, Rafi Syihab. Ia menekankan pentingnya menghadirkan unsur lokalitas dalam karya tulis agar cerita memiliki karakter yang kuat sekaligus memperkenalkan kekayaan daerah kepada khalayak yang lebih luas.
“Alangkah baiknya ketika karya itu memasukkan lokalitas daerah, seperti memunculkan isu-isu yang identik dengan daerah tersebut,” ujar Rafi Syihab.
Kegiatan yang dipandu moderator Puja Mandela ini menjadi ruang apresiasi bagi para pendidik dan peserta didik untuk menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, melainkan juga ruang tumbuhnya kreativitas dan lahirnya karya literasi.
Peluncuran dua buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pemantik bagi tumbuhnya ekosistem literasi di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Melalui karya tulis, gagasan tentang pendidikan, kisah kehidupan, hingga kekayaan lokal dapat terus dirawat, dibagikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Bzak![]()








