Sejumlah warga di beberapa kawasan Kota Banjarmasin mulai kesulitan mendapatkan air bersih setelah air PAM Bandarmasih yang mengalir ke rumah warga berubah menjadi payau hingga terasa asin.
Kondisi tersebut membuat warga harus mencari alternatif dengan membeli air isi ulang. Namun, tingginya kebutuhan air bersih menyebabkan antrean di sejumlah tempat pengisian air cukup panjang. Bahkan, harga air isi ulang disebut mengalami kenaikan.
Iky, warga Sungai Andai, mengatakan, sejak air PAM terasa payau, kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari harus dipenuhi dengan membeli air isi ulang.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat antrean di tempat pengisian air menjadi panjang. Warga bahkan harus menunggu hingga berjam-jam untuk mendapatkan air.
“Kalau belinya siang, malam baru bisa diambil isi ulang galonnya,” ujar Iky, Jumat (25/9/2026) pagi.
Selain harus mengantre panjang, Iky mengatakan harga air isi ulang juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya satu galon dibanderol sekitar Rp4.000, kini harganya menjadi Rp5.000 per galon.
“Bukan hanya antreannya yang panjang, harganya juga naik. Dulu Rp4.000, sekarang menjadi Rp5.000 per galon,” katanya.
Meski demikian, Iky menyebut distribusi air leding saat ini relatif lancar. Namun, karena sudah terasa asin, air tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Keluhan serupa disampaikan Rusidah, warga kawasan Kuin Selatan, Banjarmasin. Pedagang ketupat Kandangan ini mengaku kondisi air PAM yang berubah rasa sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
“Sudah lumayan lama, sekitar satu bulan lebih air terasa payau. Tapi dalam dua minggu ini airnya bukan lagi payau, sudah terasa asin,” ujar Rusidah.
Bagi Rusidah, kondisi tersebut cukup menyulitkan karena air bersih merupakan kebutuhan utama untuk menjalankan usaha. Air diperlukan untuk mencuci beras, membersihkan peralatan memasak, hingga mengolah makanan yang akan dijual kepada pelanggan.
Ia pun harus mencari air bersih dari tempat pengisian ulang. Namun, tidak semua tempat memiliki ketersediaan air yang cukup sehingga warga harus mengantre dalam waktu lama.
“Kalau mencari air untuk isi ulang galon juga sulit. Kalaupun ada yang menjual, antreannya sangat panjang. Bisa sampai dua sampai tiga jam baru galon terisi,” keluhnya.
Kondisi itu membuat pengeluaran warga bertambah karena harus membeli air bersih untuk kebutuhan yang sebelumnya dapat dipenuhi menggunakan air PAM.
Sementara itu, warga Teluk Dalam, Amat, berharap ada keringanan pembayaran rekening air dari pihak terkait. Pasalnya, selama kondisi air berubah menjadi payau hingga asin, air PAM yang diterimanya hanya digunakan untuk keperluan MCK.
“Kalau bisa ada keringanan pembayaran. Selama air payau ini, penggunaannya hanya untuk MCK,” harapnya.
Warga berharap persoalan kualitas air tersebut segera ditangani agar distribusi air bersih yang layak digunakan dapat kembali normal.
Selain itu, warga juga berharap adanya perhatian dan kebijakan dari pihak terkait, termasuk keringanan atau kompensasi bagi masyarakat yang terdampak, mengingat mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. PW![]()








