Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanah Laut mendorong pengelolaan masjid di daerah tersebut semakin profesional dan mampu beradaptasi dengan perkembangan digitalisasi. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Orientasi Pengembangan Masjid di Era Digitalisasi Informatika Kabupaten Tanah Laut yang digelar di Aula Kemenag Tanah Laut, Sabtu (15/8/2026).
Ketua MUI Tanah Laut, KH. Ahmad Syarifuddin Noor, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sebanyak 20 masjid sebagai langkah awal untuk meningkatkan kapasitas pengurus masjid dalam bidang manajemen maupun pemanfaatan teknologi digital.
“Tujuannya bagaimana masjid-masjid kita di Kabupaten Tanah Laut dapat dikelola dengan baik, baik secara manajemen maupun digitalisasi, supaya dakwah yang ada di masjid-masjid kita dapat dilihat dan sampai kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat dan ibadah, tetapi juga harus mampu berkembang menjadi pusat dakwah dan kegiatan keumatan.
Dalam kegiatan tersebut, MUI Tanah Laut menghadirkan narasumber dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kalimantan Selatan serta pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai pengelolaan masjid.
Ahmad berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan cakupan peserta yang lebih luas, sehingga semakin banyak masjid di Tanah Laut yang mendapatkan pembinaan.
Selain digitalisasi masjid, MUI Tanah Laut juga mendorong adanya radio dakwah di Kabupaten Tanah Laut. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sarana memperluas penyebaran dakwah kepada masyarakat.
“Di Banjarmasin ada radio dakwah Sabilal Muhtadin, di Kabupaten Banjar ada radio dakwah Masjid Agung Al-Karomah. Mudah-mudahan ke depannya di Kabupaten Tanah Laut juga ada siaran radio dakwah,” harapnya.
Sementara itu, narasumber kegiatan, H. Muhammad Irwan Wahyudi, M.Pd., selaku Kepala Bidang Takmir, Peribadatan dan Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin, menilai digitalisasi menjadi hal penting bagi masjid di tengah perkembangan teknologi informasi.
Ia mengatakan, berdasarkan pengalaman pengelolaan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, masjid perlu memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menjangkau jamaah yang lebih luas.
“Kalau memang masjid-masjid itu dari nol digitalisasinya, maka mereka harus segera membuat akun Instagram, TikTok ataupun Facebook,” jelasnya.
Menurut Irwan, keberadaan media sosial dapat digunakan untuk menyebarluaskan informasi kegiatan masjid, termasuk pengajian dan kegiatan dakwah.
Ia juga mendorong masjid yang telah memiliki kegiatan pengajian untuk mulai memanfaatkan live streaming, sehingga ceramah para ustaz maupun guru agama dapat diakses masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung.
“Dengan live streaming, jamaah akan lebih tertarik. Apalagi kalau mereka menyukai guru tersebut, penyampaiannya bagus dan materinya disukai jamaah, insyaallah akan banyak yang melihat,” katanya.
Irwan menambahkan, pengelolaan masjid juga membutuhkan sinergi dengan pemerintah dan lingkungan sekitar. Pengurus masjid diharapkan aktif berkoordinasi mulai dari tingkat RT, desa, kecamatan hingga pemerintah daerah.
“Jangan sampai kita hanya berjalan sendiri menjalankan masjid. Kita harus meminta dukungan dan bantuan pemerintah, sesuai dengan keadaan di lingkungan masjid kita,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan Masjid Agung sebagai salah satu penghubung dan penggerak bagi masjid-masjid di bawahnya, termasuk dalam hal koordinasi, administrasi dan dukungan terhadap pengembangan masjid.
Irwan berharap pengurus masjid di Tanah Laut dapat terus meningkatkan kemampuan manajemen sekaligus memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah.
“Kalau digitalisasi dan informatika kreatif ini dijalankan, sangat penting untuk menunjang dan mendukung perkembangan masjid serta dakwah kepada masyarakat,” pungkasnya. Dede![]()








