Masyarakat Banjar tentu sudah tidak asing dengan kue tradisional yang satu ini. Di Pelaihari, kue ini dikenal dengan nama gagayaman. Sementara di Martapura, orang lebih akrab menyebutnya petah.
Ratna Sari, warga Pelaihari yang dikenal sebagai pelestari kuliner khas Banjar, mengatakan bahwa kedua nama tersebut merujuk pada kue yang sama. Melalui usaha yang ia jalankan, Ratna konsisten mempertahankan cita rasa tradisional wadai Banjar.
“Kadang ada yang menyebutnya petah, ada juga yang bilang gagayaman. Keduanya sama saja, cuma beda penyebutan,” ujar Ratna Sari kepada inikalsel.id, Selasa (3/3/2026).
Kue ini merupakan salah satu sajian khas Banjar yang terbuat dari tepung beras. Adonannya kemudian dikukus dan diberi warna alami menggunakan daun suji, sehingga menghasilkan warna hijau yang khas dan tampilan yang menggugah selera.
Yang membuatnya semakin unik, di bagian atas kue gagayaman ini diberi tahilala, yaitu pati kelapa dalam bahasa Banjar. Setelah itu ditaburi irisan bawang goreng yang menambah cita rasa gurih. Penyajiannya pun khas, kue dipotong tipis-tipis sebelum disajikan.
Di lapaknya, Ratna Sari menjual hampir seluruh jenis kue tradisional Banjar. Ia bahkan mampu membuat hingga 41 macam wadai khas Banjar. Konsistensinya inilah yang membuatnya dikenal sebagai salah satu pelaku UMKM yang aktif melestarikan kuliner tradisional di Pelaihari.
Salah satu yang cukup diminati pembeli adalah kue gagayaman atau petah tersebut. Selain rasanya yang lembut, gurih, dan manis yang seimbang, kue ini juga menjadi bagian dari warisan kuliner yang terus dijaga keberadaannya di Kalimantan Selatan.
Ratna berharap, melalui usahanya, generasi muda tetap mengenal dan mencintai kue-kue tradisional Banjar di tengah maraknya jajanan modern. Dede![]()










