Oleh: Dicky Prayudi, Analis Yunior
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2025 menunjukkan sebuah catatan yang menarik: sektor industri pengolahan tumbuh lebih tinggi dibandingkan sektor primer berbasis sumber daya alam.
Industri pengolahan Kalimantan Selatan pada triwulan II 2025 tumbuh 9,87% (yoy)—tertinggi sejak 9 tahun terakhir di luar periode Covid-19 pada triwulan I 2016 yang tumbuh 12,34% (yoy)—dengan proporsi terhadap struktur ekonomi Kalimantan Selatan mencapai 11,53%, ketiga tertinggi setelah sektor pertambangan dan pertanian.
Ini bukan sekedar angka di atas kertas. Bagi Kalimantan Selatan, fenomena ini adalah tanda awal dari sebuah transformasi—dari ekonomi berbasis bahan mentah menjadi ekonomi dengan nilai tambah tinggi.
Salah satu pemicu tumbuhnya industri pengolahan di Kalimantan Selatan pada triwulan II 2025 adalah peran Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang kini mulai menunjukkan taringnya. Jika sebelumnya narasi pembangunan Kalimantan Selatan kerap diwarnai soal tambang batu bara atau perkebunan kelapa sawit, kini mulai bicara tentang tenant industri, investasi hilirisasi, hingga rantai pasok manufaktur yang diinisiasi di dalam KI dan KEK yang ada di Kalimantan Selatan, diantaranya KI Jorong, KI Batulicin, Sebuku Indonesia Industrial Park, dan KEK Setangga.
Selain itu, rencana pembangunan KI seperti KI Mantuil, KI Seradang, KI Tarjun, KI Tapin serta KEK Mekar Putih menambah daya dorong pertumbuhan industri pengolahan Kalimantan Selatan ke depan.
Dari Shenzhen ke Setangga: Belajar dari Sejarah Tiongkok
Untuk memahami pentingnya KI dan KEK, kita bisa belajar dari sejarah Tiongkok. Pada awal 1980-an, Tiongkok meluncurkan kebijakan Special Economic Zones (SEZ) atau yang kita kenal dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Shenzhen menjadi ikon paling terkenal: dari desa nelayan terbelakang, kota itu menjelma menjadi pusat industri dan teknologi dunia. Formula keberhasilannya sederhana tapi kuat: lokasi strategis, insentif fiskal, regulasi ramah investor, serta konektivitas infrastruktur.
Hasilnya luar biasa. Dalam 30 tahun, PDB per kapita Shenzhen melesat ribuan persen, mengalahkan rata-rata pertumbuhan Tiongkok sendiri. SEZ bukan sekadar “proyek pemerintah”, tetapi motor yang menyalakan ekosistem investasi, inovasi, dan tenaga kerja terampil.
Apa yang terjadi di Tiongkok beberapa dekade lalu kini berada di depan mata Kalimantan Selatan. KEK Setangga, yang pada 2025 sudah menampung enam tenant dengan total investasi sekitar Rp21 triliun, adalah miniatur dari apa yang diharapkan menjadi “Shenzhen of Borneo”.
Saat ini, terdapat beberapa industri yang beroperasi di KEK Setangga seperti industri biodiesel & refinery, industri fraksinasi yang diharapkan berkontribusi pada peningkatan produksi minyak goreng sawit nasional, industri energi, dan pendukung industri lainnya seperti terminal khusus dan umum jetty serta tank penyimpanan hasil produksi industri.
Selain itu, akan ada industri pengolahan nikel dengan produk akhir ternary precursor di KEK Setangga yang berpotensi menjadi primadona baru bagi ekonomi Kalimantan Selatan. Dengan nilai tambah mencapai 19x, tentunya akan berkontribusi secara signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan yang bersumber dari sektor industri pengolahan.
Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi
Peran KI dan KEK menjadi penting, karena kawasan ini mengubah wajah ekonomi lokal. Industri pengolahan yang tumbuh di kawasan tersebut tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga mendorong terbentuknya rantai nilai baru. UMKM lokal mendapat pasar, sektor transportasi dan logistik hidup, sementara jasa keuangan ikut berkembang dengan adanya kebutuhan investasi dari tenant industri.
Hal ini yang disebut dengan multiplier effect. Investasi di satu tenant pabrik bisa berarti ratusan lapangan kerja baru, puluhan kontraktor lokal terserap, hingga peningkatan konsumsi masyarakat di sekitar kawasan. Dan jika pola ini berulang di banyak tenant dan kawasan, maka grafik pertumbuhan Kalimantan Selatan akan bergerak lebih stabil ke atas.
Berdasarkan perhitungan kami, adanya investasi dari pembangunan industri di dalam KEK Setangga diperkirakan mampu memberikan dorongan ekonomi 0,37—1,02% dari baseline . Tidak berhenti di situ, berdasarkan informasi dari Dewan KEK Nasional, ke depan akan ada industri besi, industri karet, dan industri kemasan, seperti karung, botol, dan pouch untuk memenuhi kebutuhan kemasan industri-industri yang ada di dalam KEK Setangga, sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah untuk mendorong ekonomi Kalimantan Selatan yang lebih tinggi lagi.
Kesempatan yang Tidak Boleh Terlewatkan
Kalimantan Selatan kini berada pada persimpangan sejarah. Apakah Kalimantan Selatan akan terus merasa nyaman dengan struktur ekonomi lama yang bergantung pada sektor ekstraktif, atau melangkah ke depan dengan membangun basis industri pengolahan melalui KI dan KEK?
Jika memilih jalan kedua, sejarah Shenzhen di Tiongkok memberi pelajaran penting: KI dan KEK bukan hanya proyek, tetapi pintu masuk menuju lompatan ekonomi. Pertumbuhan industri pengolahan di triwulan II 2025 menjadi sebuah “sirine” tanda mulai berputarnya roda baru yang menggerakkan perekonomian Kalimantan Selatan.
Jika kita melihat berdasarkan tren historis, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan dalam lima tahun terakhir rata-rata berkisar di 5% per tahun, dengan fluktuasi akibat harga komoditas global. Tanpa KI dan KEK: Struktur ekonomi tetap bertumpu pada sektor pertambangan dan perkebunan. Momentum ini tidak boleh hilang.
Dengan upaya serius dari seluruh pemangku kepentingan baik Pemerintah maupun Swasta dalam mengembangkan KI dan KEK, Kalimantan Selatan bisa menjadikan KI dan KEK sebagai motor pertumbuhan jangka panjang—mewujudkan Asta Cita menjadikan Kalimantan Selatan bagian dari superhub ekonomi nusantara yang modern dan berkelanjutan. *![]()










