Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kalimantan Selatan, Zainal Helmie, menegaskan bahwa menjaga independensi jurnalistik di tengah tekanan ekonomi dan perubahan lanskap media memerlukan inovasi, etika yang kuat, serta kebersamaan antar media.
Pernyataan tersebut disampaikan Zainal Helmie dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Pemilik Media dalam Menjaga Independensi Jurnalistik dan Menegakkan Suara Kebenaran” pada peringatan hari jadi ke-9 Jejakrekam.com, yang berlangsung di Cangkir Coffee, Jalan Mahligai KM 7, Pemurus Luar, Banjarmasin, Minggu (4/1/2026).

Mengawali penyampaiannya, Zainal menyampaikan apresiasi atas perjalanan Jejakrekam.com yang dinilainya dikelola secara profesional.
“Jejakrekam ditangani oleh orang-orang yang profesional. Saya yakin di bawah kepemimpinan Pak Haris, Jejakrekam akan semakin maju,” ujarnya.
Zainal menyoroti dilema klasik yang dihadapi pemilik media dalam menjaga independensi di tengah beban operasional dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan pekerja pers.
“Kalau saya mau sepenuhnya independen, ada puluhan wartawan dan keluarganya yang harus tetap makan. Maka pola pikir soal independensi juga harus realistis dan adaptif,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa ekosistem media saat ini telah berubah drastis, di mana media sosial menjadi pesaing utama media arus utama dan media daring, sehingga menuntut perubahan strategi bisnis dan pengelolaan redaksi.
“Sekarang media mainstream dan media online kalah cepat dengan media sosial. Kalau kita mau tetap independen, kita harus didukung sumber daya IT yang kuat dan strategi digital yang tepat,” tegasnya.
Selain itu, Zainal menekankan pentingnya membangun model kebersamaan antar media, terutama dalam memperluas jangkauan distribusi konten jurnalistik.
“Yang perlu kita lakukan adalah kebersamaan. Mari kita viralkan berita-berita berkualitas secara kolektif. Tulisan bagus jangan jalan sendiri, kita naikkan bersama,” ajaknya.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas wartawan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menulis, tetapi terutama oleh etika profesi. Menurutnya, inilah yang menjadi standar utama dalam keanggotaan PWI.
“Masuk PWI itu harus lulus uji kompetensi dari Dewan Pers. Bukan hanya bisa menulis berita, tetapi menjaga etika. Tanpa etika, jurnalisme kehilangan martabatnya,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Zainal mengajak seluruh insan pers di Kalimantan Selatan untuk menanggalkan persaingan sempit dan membangun kolaborasi yang sehat demi keberlanjutan pers daerah.
“Hari ini kita tidak bisa berjalan sendiri. Media di Kalimantan Selatan harus bersatu, berbagi karya terbaik, dan membangun kekuatan bersama untuk menjaga independensi dan kebenaran,” tutupnya. As![]()










