Penulis: Resti Nisaidha Rahmi, Ekonom Yunior
Perekonomian Kalimantan Selatan kembali menunjukkan kinerja positif pada 2024 dengan pertumbuhan mencapai 5,05% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 4,84% di tahun sebelumnya.
Angka ini patut diapresiasi, namun sekaligus menyisakan pekerjaan rumah besar: ketergantungan daerah terhadap batubara masih sangat tinggi. Selama bertahun-tahun, komoditas ini telah menjadi motor utama pembangunan daerah, tetapi sekaligus membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga internasional, ketidakpastian geopolitik, hingga arah kebijakan energi dunia yang kini bergerak menuju energi bersih.
Kondisi ini menempatkan Kalimantan Selatan pada persimpangan penting. Apakah akan terus bergantung pada ekspor batu bara mentah dengan segala risikonya, atau berani melangkah maju dengan strategi transformasi yang lebih berkelanjutan? Dalam situasi tersebut, hilirisasi batu bara hadir bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan.
Transformasi batu bara menjadi produk bernilai tambah dapat menjadi solusi untuk menjaga relevansi komoditas ini sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah. Melalui gasifikasi, batubara bisa diolah menjadi metanol, dimethyl ether (DME), amonia, hingga hidrogen yang semuanya memiliki prospek pasar besar. Selain itu, teknologi seperti Coal Cofiring dan Carbon Capture Storage (CCS/CCUS) memungkinkan pemanfaatan batubara tetap sejalan dengan agenda pengurangan emisi.
Kementerian ESDM bahkan memperkirakan hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah batu bara hingga 2,5 kali lipat.
Di Kalimantan Selatan sendiri, alokasi investasi untuk proyek gasifikasi diprakirakan mencapai Rp27,3 triliun. Berdasarkan simulasi, besaran nilai tambah terhadap perekonomian daerah akan sangat dipengaruhi oleh skenario konstruksi dan nilai investasi awal. Pada skenario ideal dengan estimasi konstruksi 5 tahun, kebutuhan investasi awal sekitar Rp5,47 triliun berpotensi mendorong peningkatan PDRB hingga sekitar 1,52% dari baseline . Sementara itu, pada skenario konstruksi yang lebih panjang, yakni 8 tahun, kebutuhan investasi yang lebih kecil—sekitar Rp3,42 triliun—diperkirakan menghasilkan tambahan PDRB sekitar 0,95% dari baseline.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa semakin besar dan semakin cepat realisasi investasi dilakukan, semakin kuat pula dorongan langsung terhadap aktivitas ekonomi daerah. Selain memberikan kontribusi tambahan terhadap PDRB, proyek gasifikasi juga berpotensi mengurangi ekspor batubara mentah, menekan impor LPG, serta memperkuat perdagangan domestik. Artinya, hilirisasi tidak hanya memberi nilai tambah pada komoditas, melainkan juga mendorong industrialisasi daerah yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Namun, implementasi hilirisasi tidak sesederhana membalik telapak tangan. Terdapat sejumlah tantangan mendasar yang perlu ditangani secara serius. Tantangan terbesar ada pada kebutuhan modal yang sangat besar, teknologi yang masih didominasi investor asing, serta isu lingkungan yang menuntut penanganan lebih serius.
Infrastruktur pendukung dan kesiapan tenaga kerja juga menjadi faktor penting yang harus dipenuhi agar hilirisasi dapat berjalan efektif. Namun, tantangan ini justru bisa menjadi pemicu untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten, kemitraan dunia usaha, peran lembaga riset dan akademisi, serta keterlibatan masyarakat, hambatan-hambatan tersebut bukan tidak mungkin diatasi.
Lebih jauh, hilirisasi batu bara seharusnya dipandang bukan hanya sebagai proyek industri semata, melainkan sebagai strategi pembangunan jangka panjang. Keberhasilannya akan membuka lapangan kerja baru, menciptakan rantai pasok industri yang lebih kuat, serta memperluas basis ekonomi daerah. Dengan cara ini, Kalimantan Selatan dapat mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah dan melangkah menuju ekonomi yang lebih tangguh.
Optimisme ini sejalan dengan agenda nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Hilirisasi batubara di Kalimantan Selatan berpotensi menjadi motor baru yang tidak hanya menopang ekonomi daerah, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap target pertumbuhan nasional 8% pada 2029. Jika strategi ini dijalankan konsisten, Kalimantan Selatan bahkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengelola sumber daya alam secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Kalsel memiliki peluang emas untuk membuktikan bahwa sumber daya alam tidak harus selalu menjadi jebakan ketergantungan, melainkan bisa menjadi pintu masuk menuju inovasi dan keberlanjutan. Dengan semangat kolaborasi dan langkah nyata dari semua pihak, hilirisasi batu bara dapat benar-benar menjadi momentum transformasi yang membawa Kalimantan Selatan melangkah lebih percaya diri ke masa depan.
Saat dunia berubah menuju energi bersih, Kalsel dapat menunjukkan bahwa transisi bukanlah ancaman, melainkan peluang besar untuk tumbuh lebih maju, lebih kuat, dan lebih berdaya saing. *![]()










