Buah bilungka batu atau timun suri menjadi salah satu komoditas musiman yang selalu dinanti masyarakat di Kalimantan Selatan saat bulan Ramadhan. Buah berbentuk lonjong dengan kulit hijau kekuningan saat matang ini dikenal luas sebagai “buah Ramadhan” karena panennya yang melimpah hanya menjelang dan selama bulan puasa.

Di kalangan Urang Banjar, bilungka batu—juga disebut bilungka langkang—kerap dijadikan bahan utama es buah untuk berbuka. Daging buahnya bertekstur lembut, cenderung hambar namun segar, serta mudah hancur ketika sudah masak. Sajian populer Es Bilungka Batu biasanya dibuat dengan mengeruk daging buah lalu dicampur sirup merah atau frambozen, susu kental manis, dan es batu.
Petani umumnya mulai menanam bilungka batu menjelang Ramadhan agar masa panen bertepatan dengan tingginya permintaan pasar. Salah satu penjual musiman adalah Mahlidah (50), warga Desa Ujung, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.
Mahlidah mengaku rutin menjual bilungka batu setiap menjelang Ramadhan dari hasil kebun sendiri. Meski kondisi kesehatannya menurun akibat stroke, ia tetap bersemangat berjualan di lapak depan rumahnya yang berada di tepi jalan poros kabupaten arah Pelaihari.
“Kada Ramadhan kada lengkap mun kada ada bilungka batu. Walaupun ulun lagi sakit, tiap menjelang puasa tetap bejualan,” ujarnya kepada inikalsel.id, Jumat (13/2/2026).
Ia menyebut harga bilungka batu dijual mulai Rp5.000 per kilogram. Untuk pembelian dalam jumlah banyak, harga bisa lebih murah.
Mahlidah juga membagikan tips memilih bilungka batu yang matang sempurna, yakni memilih buah yang sudah merekah atau sedikit terbelah. Kondisi tersebut menandakan daging buah sudah lembut dan siap diolah menjadi minuman segar untuk berbuka puasa. Dede![]()










