30.6 C
Banjarbaru
Minggu, November 1, 2026
spot_img

Dari Bingka Batumis Hingga Tradisi Batimung, Budaya Banua Diperkenalkan Melalui Lima Film Pendek Karya Sineas Lokal 

Parkiran Bioskop Kota CineMall (KCM) Jl. Belitung Darat tampak ramai dipenuhi mobil dan sepeda motor pengunjung pada Sabtu pagi (31/10/2026). Para penonton berdatangan tidak hanya sekadar ingin menonton film, melainkan menyaksikan penayangan perdana karya-karya lokal dari sineas muda di tanah banua yang merupakan bagian dari salah satu deretan agenda Banua Film Fund 2026. Tidak hanya kru dan aktor film, sejumlah pegiat budaya juga turut menghadiri Gala Premiere tersebut.

Dilansir dari laman Instagram @forumsineasbanua, Banua Film Fund adalah program inkubasi dan pembiayaan kepada pegiat film melalui sederet proses. Dari pelatihan, seleksi, produksi, pendampingan, sampai festival. Program ini juga merupakan program kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan dengan Forum Sineas Banua.

Berbeda dengan tema “Estetika Horor” yang diusung pada tahun 2025 lalu, Banua Film Fund kali ini mengangkat tema “Merawat Warisan, Menuturkan Banua”. Tujuannya untuk melahirkan karya film bertema budaya dan pariwisata Kalimantan Selatan. Dan berdasarkan hasil kurasi, ada lima ide cerita yang lolos untuk diproduksi menjadi film pendek dan ditayangkan secara perdana di KCM Belda.

Film-film tersebut ada yang bercerita tentang misi menemukan kue ke-41 untuk acara Baayun Maulid seperti film Misi 41 karya Muhammad Risky ‘Kysahh’ dari Pagi Collective.

Ada pula yang menyentil isu tentang realita para pencari kerja yang kesulitan menemukan pekerjaan seperti film Malamar Gawian karya Abdul Rahman ‘Arko’ dari Ngerujaks Studio.

Lalu ada yang mengangkat tentang ritual Massalama Ritasi’e di pesisir seperti film Rasi Arah Pulang karya Randy Pakey dari Kaya Films.

Kemudian ada film Tamakan Dabu karya Ray Fanathagama dari Layar Tanbu yang mengisahkan seorang pemuda penderita penyakit batuk kronis yang hendak mengikuti lomba madihin, namun ia dan ketiga temannya berangkat melalui jalanan penuh debu.

Dan ada juga film Jangan Dicium karya Muhammad Azmi Arif dan Liko Anshori yang bercerita tentang hubungan romansa dua sejoli yang sudah lama berpacaran, namun terancam gagal menikah akibat bau badannya yang tak disukai calon mertua sang pria.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Edy Suwarto, mengungkapkan bahwa keterlibatan pemerintah pada program ini merupakan wujud dukungan terhadap perkembangan sektor perfilman serta penguatan identitas budaya Kalimantan Selatan.

Menurutnya, karya-karya film dari Kalimantan Selatan diharapkan dapat dikenal bukan hanya secara lokal dan regional, melainkan juga dapat menjebol kancah nasional hingga internasional.

“Harapannya Banua Film Fund tidak hanya berkembang di tingkat regional, tetapi juga mampu menjangkau skala nasional sehingga karya sineas daerah semakin dikenal luas,” jelasnya. MH

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img