Malam Minggu biasanya identik dengan nongkrong, musik dan secangkir kopi. Namun, Toko Kopi Makmoer Bersama di kawasan Pasar Pelaihari, tepat di seberang Polres Tanah Laut, memilih menghadirkan suasana yang berbeda.
Sabtu (3/10/2026) malam, meja-meja di Makmoer Bersama tak hanya menjadi tempat menikmati kopi. Anak muda Pelaihari diajak duduk bersama, berbagi cerita, membuka keresahan hingga membicarakan kenyataan hidup yang terkadang tak berjalan sesuai harapan.
Suasana itu hadir melalui Baik Bareng Vol. 2 dengan tema “Berdamai dengan Perih: Ketika Hidup Nggak Sesuai Ekspektasi.”
Kegiatan yang berlangsung pukul 21.00 hingga 22.30 WITA tersebut terbuka untuk umum. Hadir sebagai pembicara, Thorikul Hakiki, komika sekaligus kreator konten, bersama H. Muhammad Rahmat Hidayat selaku inisiator Baik Bareng.
Obrolan malam itu dikemas santai, tetapi menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Peserta diajak melepas penat sekaligus membicarakan kegelisahan yang terkadang hanya disimpan sendiri.
Pesan yang dibawa sederhana: hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika ekspektasi bertabrakan dengan kenyataan, seseorang tetap perlu menemukan cara untuk menerima keadaan dan melanjutkan langkah.
Owner sekaligus inisiator Makmoer Bersama, H. Muhammad Rahmat Hidayat, mengatakan Baik Bareng merupakan salah satu ruang yang memang sengaja dibangun untuk menghadirkan kegiatan berbeda bagi masyarakat, khususnya anak muda.
“Selamat datang, selamat duduk bersama, bermalam Minggu di tempat yang sederhana ini, di Toko Kopi Makmoer Bersama,” ujar Rahmat saat membuka kegiatan.
Menurutnya, Baik Bareng Vol. 2 merupakan diskusi kedua yang digelar Makmoer Bersama. Konsep tersebut lahir dari keinginan menjadikan kedai kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang bertemu dan bertukar gagasan.
“Makmoer Bersama mempunyai tempat untuk berdiskusi. Ada yang namanya Baik Bersama, kemudian Secangkir Wacana, stand up comedy dan lain sebagainya,” katanya.
Rahmat menyebut konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari aktivitas malam Minggu pada umumnya.
Jika sebagian tempat nongkrong mengandalkan live music sebagai hiburan, Makmoer Bersama justru mencoba menghadirkan alternatif berupa diskusi, obrolan dan kegiatan kreatif.
“Setiap malam Minggu mungkin tidak akan pernah ditemukan di sini live musik dan sebagainya. Tapi kita coba untuk hal-hal yang berbeda,” tuturnya.
Bagi Makmoer Bersama, kopi hanya menjadi awal dari sebuah pertemuan. Yang ingin dibangun adalah ruang untuk mempertemukan cerita, keresahan dan gagasan.
Di tempat sederhana itu, anak muda tak hanya datang untuk menghabiskan malam. Mereka diberi ruang untuk berbicara, mendengarkan dan melihat persoalan hidup dari sudut pandang yang berbeda.
Sebab terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang.
Cukup sebuah meja, secangkir kopi, ruang untuk duduk dan seseorang yang mau mendengarkan.
Dari sana, mungkin seseorang bisa kembali pulang dengan satu kesadaran sederhana: hidup yang tak sesuai ekspektasi bukan berarti harus berhenti dijalani. Dede![]()








