36.5 C
Banjarbaru
Rabu, Oktober 14, 2026
spot_img

DPRKPLH Tata Nol Kilometer Pelaihari, Gabungkan Sejarah dan Wajah Kota Masa Kini

Tugu Bundaran Nol Kilometer Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), resmi diresmikan pada Jumat (1/10/2026). Di balik kemegahan ikon baru tersebut, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Tala mengambil peran dalam menata kawasan agar tidak sekadar menjadi penanda geografis, tetapi juga ruang publik yang memiliki nilai sejarah dan daya tarik wisata.

Kepala DPRKPLH Tala, Gusti Dwi Erzandi, mengatakan penataan kawasan Nol Kilometer dirancang dengan memadukan unsur sejarah dengan kebutuhan ruang publik di tengah perkembangan Kota Pelaihari.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Tala. Bahkan, lokasi itu memiliki keterkaitan dengan masa kecil Wakil Bupati Tala H. Muhammad Zazuli.

“Dulu di depan kita persis ini merupakan rumah tinggal beliau. Artinya, kita mengenang kembali yang dulu, kemudian kita sulap menyesuaikan kondisi zaman sekarang,” ujar Erzandi.

Tak Sekadar Bangun Tugu

Erzandi menegaskan, konsep penataan Nol Kilometer tidak berhenti pada pembangunan sebuah tugu. Kawasan tersebut dirancang menjadi salah satu ruang publik yang dapat merepresentasikan identitas Kabupaten Tanah Laut.

Titik Nol Kilometer dinilai memiliki posisi penting karena menjadi penanda geografis Kabupaten Tanah Laut. Karena itu, desainnya dibuat sederhana namun tetap memiliki karakter yang kuat.

Sejumlah unsur khas Tanah Laut juga dimasukkan ke dalam desain kawasan, salah satunya simbol kijang.

Menurut Erzandi, simbol tersebut menggambarkan semangat kebersamaan untuk membawa Tanah Laut terus bergerak maju.

Selain itu, terdapat elemen tugu yang dapat berputar dan direncanakan beroperasi pada malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WITA.

Terhubung dengan Kawasan Balairung

Penataan Nol Kilometer juga disiapkan agar terintegrasi dengan kawasan Balairung. Konsep tersebut diarahkan untuk menghadirkan ruang terbuka yang dapat mempertemukan pemerintah dengan masyarakat.

“Artinya Tanah Laut dan pimpinannya itu menyatu dengan masyarakat,” katanya.

Erzandi menyebut penataan kawasan Nol Kilometer menjadi salah satu bagian dari upaya DPRKPLH, khususnya melalui bidang tata kota, untuk mempercantik wajah perkotaan Pelaihari.

Tak berhenti di kawasan tugu, pembenahan wajah kota juga akan diarahkan pada persoalan kabel listrik yang selama ini dinilai mengganggu kerapian lingkungan perkotaan.

“Kita ke depannya menghilangkan kabel-kabel listrik yang berseliweran supaya lebih tertata rapi. Tampilan kota juga bisa dipercantik,” ujarnya.

Dorong Kawasan Kota Tua Jadi Daya Tarik

DPRKPLH juga melihat potensi kawasan kota tua di sekitar Nol Kilometer untuk ditata kembali. Penataan tersebut diharapkan membuat kawasan memiliki nilai lebih, bukan hanya sebagai titik nol kilometer secara administratif.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kawasan tersebut dapat menjadi ruang publik sekaligus salah satu tujuan wisata di Pelaihari.

“Harapan kami nanti bisa dipoles lagi sehingga lebih menambah daya tarik untuk berwisata ke Kabupaten Tanah Laut,” pungkas Erzandi.

Sementara itu, peresmian Tugu Bundaran Nol Kilometer dilakukan langsung Bupati Tala H. Rahmat Trianto bersama Wakil Bupati H. Muhammad Zazuli. Prosesi diawali dengan adat betapung tawar dan dilanjutkan penandatanganan plakat oleh Bupati Rahmat sebagai tanda resmi dibukanya ikon baru tersebut.

Dengan penataan ini, Nol Kilometer Pelaihari diharapkan bukan hanya menjadi titik penanda perjalanan, tetapi juga menjadi bagian dari wajah baru kota yang menggabungkan sejarah, ruang publik dan identitas Tanah Laut.Dede

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img