Tugu Bundaran Nol Kilometer Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), resmi diresmikan pada malam Jumat (1/10/2026).
Peresmian tugu yang berada di kawasan Taman Nol Kilometer tersebut dilakukan langsung Bupati Tala H. Rahmat Trianto bersama Wakil Bupati H. Muhammad Zazuli. Kegiatan turut dihadiri jajaran keluarga besar Pemkab Tala serta masyarakat Pelaihari.
Rangkaian peresmian diawali dengan prosesi adat betapung tawar. Setelah itu, Bupati Rahmat melakukan penandatanganan plakat sebagai penanda diresmikannya Tugu Nol Kilometer Pelaihari.
Wakil Bupati Tala H. Muhammad Zazuli mengatakan, keberadaan tugu tersebut memiliki kaitan dengan sejarah kawasan Nol Kilometer Pelaihari.
Ia mengenang, pada masa kecilnya kawasan tersebut sebelumnya hanya memiliki sebuah tugu berukuran kecil dengan jam di bagian atasnya.
“Dulu ada tugu kecil yang ada jamnya. Tingginya sekitar dua meter. Alhamdulillah sekarang sudah terlihat megah, sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Zazuli.
Bukan Sekadar Tugu
Kepala DPRKPLH Tala, Gusti Dwi Erzandi, menjelaskan pembangunan kawasan tersebut dirancang dengan membawa unsur sejarah sekaligus menyesuaikan kebutuhan ruang publik masa kini.
Menurutnya, kawasan Nol Kilometer memiliki nilai historis bagi Kabupaten Tanah Laut. Bahkan, lokasi tersebut memiliki kedekatan dengan masa kecil Wakil Bupati Zazuli.
“Dulu di depan kita persis ini merupakan rumah tinggal beliau. Artinya, kita mengenang kembali yang dulu, kemudian kita sulap menyesuaikan kondisi zaman sekarang,” jelasnya.
Ia menyebut, titik Nol Kilometer menjadi salah satu kawasan penting karena menjadi penanda geografis Kabupaten Tanah Laut.
Karena itu, desain tugu dibuat seminimalis mungkin, tetapi tetap memiliki unsur yang diharapkan mampu menarik masyarakat Tanah Laut maupun wisatawan dari luar daerah.
Sejumlah ikon Tanah Laut turut dimasukkan dalam desain kawasan tersebut, termasuk simbol kijang.
Menurut Erzandi, kijang menjadi simbol semangat kebersamaan untuk membawa Tanah Laut terus bergerak maju.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah keberadaan elemen tugu yang dapat berputar. Fasilitas tersebut direncanakan beroperasi pada malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WITA.
Terintegrasi dengan Kawasan Balairung
Erzandi mengatakan, penataan Nol Kilometer juga dirancang agar terintegrasi dengan konsep kawasan Balairung.
Konsep tersebut diharapkan menciptakan ruang terbuka yang mempertemukan pemerintah dan masyarakat.
“Artinya Tanah Laut dan pimpinannya itu menyatu dengan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan kawasan ini menjadi salah satu persembahan DPRKPLH, khususnya bidang tata kota, dalam upaya mempercantik wajah perkotaan Pelaihari.
Ke depan, penataan kawasan juga akan diarahkan untuk mengurangi kesemrawutan kabel listrik yang dinilai dapat mengganggu tampilan kota.
“Kita ke depannya menghilangkan kabel-kabel listrik yang berseliweran supaya lebih tertata rapi. Tampilan kota juga bisa dipercantik,” ujarnya.
Selain kawasan Nol Kilometer, pemerintah juga berharap kawasan kota tua di sekitar lokasi dapat ditata dan dipoles kembali.
Dengan begitu, kawasan tersebut tidak hanya menjadi titik nol kilometer secara administratif, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik dan salah satu daya tarik wisata di Pelaihari.
“Harapan kami nanti bisa dipoles lagi sehingga lebih menambah daya tarik untuk berwisata ke Kabupaten Tanah Laut,” pungkasnya.Dede![]()








