24 C
Banjarbaru
Selasa, September 22, 2026
spot_img

Bukan Sekadar Berebut Juara, Lomba Literasi Jadi Ruang Siswa SMPN 1 Kelumpang Barat Mengeksplorasi Diri

Tepuk tangan dan sorak dukungan teman-teman mengiringi setiap penampilan siswa di SMP Negeri 1 Kelumpang Barat. Selama dua hari, Senin–Selasa (21–22 September), suasana sekolah berubah lebih semarak. Siswa tidak hanya duduk di bangku kelas, tetapi tampil, berkarya, dan menunjukkan kemampuan mereka dalam lomba literasi.

Ada yang menuangkan gagasan melalui desain poster animasi digital. Ada yang berani berdiri dan bercerita menggunakan bahasa Banjar. Ada pula yang memainkan intonasi dan ekspresi dalam lomba baca puisi.

Di balik persaingan untuk menjadi yang terbaik, kegiatan tersebut menyimpan tujuan yang lebih sederhana sekaligus penting: memberi siswa ruang untuk berani menunjukkan kemampuan mereka.

Kepala SMP Negeri 1 Kelumpang Barat, Said Hairullah, mengatakan lomba literasi sengaja dikemas sebagai pemantik agar siswa semakin tertarik dan memiliki kegemaran terhadap kegiatan literasi.

“Ini kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kompetensi di bidang literasi. Menang kalah bukan takaran, yang penting atensi siswa tersalurkan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan literasi tidak sebatas membaca buku atau menulis teks. Siswa juga perlu memiliki keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, serta kecakapan memanfaatkan teknologi.

Karena itu, jenis lomba dibuat beragam. Poster animasi digital misalnya, memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki ketertarikan pada dunia visual dan teknologi. Sementara bakesah bahasa Banjar menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di kalangan pelajar.

Sedangkan baca puisi memberi tantangan berbeda. Siswa dituntut tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga memahami makna, memainkan ekspresi, mengatur intonasi, dan membangun keberanian di hadapan penonton.

Bagi peserta, pengalaman tampil tersebut menjadi bagian yang tak kalah penting dibandingkan hasil akhir perlombaan.

Salah seorang peserta, Alif Arifin, mengaku senang sekolahnya memberikan ruang bagi siswa untuk mengikuti kompetisi literasi.

Menurutnya, lomba tersebut membuat siswa memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus melatih rasa percaya diri.

“Ini juga sebagai pemanasan dan ajang latihan untuk lomba yang lebih tinggi. Apalagi bulan depan ada lomba TOPS yang diikuti oleh siswa se-Kabupaten,” katanya.

Bagi Alif, tampil di depan teman-teman sekolah menjadi pengalaman berharga. Rasa gugup yang muncul justru menjadi bagian dari proses belajar sebelum menghadapi panggung kompetisi yang lebih besar.

Suasana serupa terlihat sepanjang perlombaan. Siswa yang tampil berusaha memberikan kemampuan terbaiknya, sementara teman-teman yang menjadi penonton ikut memberikan dukungan. Ketika seorang peserta selesai tampil, tepuk tangan pun pecah memenuhi ruangan.

Tidak ada sekat antara peserta dan penonton. Mereka saling memberi semangat, sesekali bercanda, kemudian kembali serius ketika peserta berikutnya dipanggil.

Di situlah sisi lain kegiatan tersebut terasa. Lomba menjadi cara sederhana untuk membuat literasi lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Di tengah rutinitas pembelajaran di kelas, kompetisi memberi suasana baru. Siswa belajar bukan hanya dari buku dan penjelasan guru, tetapi juga dari keberanian tampil, menerima apresiasi, menghadapi rasa gugup, serta menghargai penampilan orang lain.

Sekolah pun mendapatkan kesempatan untuk melihat potensi siswa yang mungkin tidak selalu terlihat dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

Ada siswa yang ternyata percaya diri ketika bercerita. Ada yang mampu menghasilkan karya visual menarik. Ada pula yang menemukan kekuatannya melalui suara, ekspresi, dan kemampuan menghayati puisi.

Pada akhirnya, lomba literasi di SMP Negeri 1 Kelumpang Barat bukan semata tentang siapa yang membawa pulang juara.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang kecil bagi siswa untuk menemukan keberanian, mengenali potensi, dan menyalurkan kegemaran mereka terhadap literasi.

Sebab, sebelum seorang siswa mampu bersaing di tingkat kabupaten, ia terlebih dahulu membutuhkan tempat untuk mencoba. Dan sekolah menjadi salah satu tempat pertama bagi mereka untuk belajar tampil, berani, dan percaya pada kemampuan sendiri. Bzak

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img