33 C
Banjarbaru
Kamis, September 17, 2026
spot_img

Tanggui, Warisan Banjar yang Tetap Eksis di Tengah Zaman

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal. Salah satunya tercermin dari perlengkapan tradisional masyarakat yang hingga kini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar memiliki tanggui, penutup kepala tradisional berbentuk kerucut lebar yang sekilas menyerupai tudung saji atau payung terbalik. Tanggui umumnya digunakan para petani dan nelayan untuk melindungi kepala dari teriknya matahari saat beraktivitas di luar ruangan.

Terbuat dari anyaman pucuk daun nipah, tanggui telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Banjar selama ratusan tahun. Keberadaannya pun tidak sekadar sebagai perlengkapan bertani dan bekerja, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Menariknya, tanggui kini tidak hanya dibuat dalam bentuk sederhana. Para pengrajin kerap menghiasnya dengan beragam motif dan kreativitas, sehingga menghasilkan tanggui yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

Kegiatan menghias tanggui bahkan kerap dilombakan dalam berbagai acara dan kegiatan masyarakat. Selain menjadi ajang kreativitas, perlombaan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sekaligus mempertahankan keberadaan tanggui agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Salah seorang warga Kuin Cerucuk, Rohani, mengaku rutin mengikuti berbagai kegiatan menghias tanggui. Menurutnya, kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan di lingkungannya sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Di Kuin Cerucuk hampir 40 persen mayoritas masyarakatnya merupakan pengrajin tanggui, jadi saat ada lomba semacam ini saya rutin ikut. Ini salah satu upaya untuk tetap menjaga kearifan lokal, dan para pemuda bisa ikut menerapkannya agar tidak tergerus oleh zaman,” ujar Rohani, Kamis (17/9/2026) siang.

Rohani menjelaskan, salah satu keunikan tanggui terletak pada bahan dasarnya yang berasal dari pucuk daun nipah. Tanaman nipah banyak tumbuh di kawasan rawa dan pesisir Kalimantan Selatan.

Pucuk daun nipah dipilih karena memiliki karakter yang lentur sekaligus kuat sehingga cocok untuk dianyam menjadi tanggui.

“Proses pembuatan tanggui membutuhkan ketelitian dan keterampilan khusus. Biasanya pucuk nipah dikeringkan terlebih dahulu selama satu hingga dua hari sebelum mulai dianyam dan dihias,” jelasnya.

Tak hanya proses menganyam, tahap menghias tanggui juga membutuhkan ketelitian tinggi.

Dina, warga Teluk Tiram, mengatakan membuat hiasan pada tanggui bukan perkara mudah, terutama ketika pengrajin harus menuangkan tema atau gambar tertentu ke permukaan tanggui.

“Harus teliti saat melukis, agar hasil gambar atau hiasan pada tanggui bisa lebih menarik,” ucapnya.

Menurut Dina, hingga saat ini tanggui masih banyak digunakan masyarakat, khususnya petani dan nelayan. Selain berfungsi sebagai pelindung kepala dari panas matahari, tanggui yang dihias juga memiliki nilai seni dan menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya Banjar.

Keberadaan para pengrajin tanggui menjadi salah satu bukti bahwa kearifan lokal masih dapat bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Dari anyaman sederhana pucuk nipah, tanggui terus hadir sebagai bagian dari kehidupan sekaligus identitas budaya masyarakat Banjar. PW

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img