27 C
Banjarbaru
Minggu, Agustus 30, 2026
spot_img

Saat Petani Desa Mali-Mali Menjaga Padi dari Kemarau

Hari itu sengatan matahari persawahan Desa Mali-Mali terasa sangat menyengat ketika seseorang terlihat membungkukkan badannya ke arah tanaman padi. Orang itu adalah seorang petani yang sedang mengerjakan sisa pekerjaannya di sawah. Dengan mengenakan pakaian sederhana yang penuh dengan noda tanah yang menempel, dilengkapi dengan topi caping yang melindungi sebagian wajahnya dari teriknya matahari, dia mengumpulkan padi yang sudah menguning di hadapannya menjadi satu.

Pada setiap musim panen, saat padinya telah menguning, pekerjaan serupa akan dilakukan oleh setiap petani padi. Mungkin sepintas terlihat tidak ada yang istimewa dari rutinitas ini. Namun sebenarnya dari sinilah sebagian kebutuhan pangan masyarakat berasal, khususnya bagi daerah seperti Kalimantan Selatan.

Hari itu, 30 Agustus 2026, petani tidak hanya memikirkan hasil panen. Mereka juga mulai lebih sering memperhatikan kondisi lahan. Musim kemarau membuat sawah dan lahan di sekitarnya lebih mudah kering. Risiko kebakaran pun ikut meningkat. Sejumlah petani di Mali-Mali mengatakan mereka harus lebih waspada menghadapi musim kemarau. Lahan yang kering dikhawatirkan mudah terbakar, terutama jika api muncul dari lahan di sekitar persawahan.

Bagi mereka, kebakaran bukan persoalan kecil. Api yang menjalar dapat merusak tanaman, mengganggu pekerjaan dan membuat lahan yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan pangan justru menjadi sumber masalah.

Berdasarkan data dari Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, kondisi cuaca yang tahun ini akan terjadi puncak kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September. Maka kekhawatiran petani sangatlah sejalan dengan prediksi BMKG. Pada September tahun ini, puncak kemarau diperkirakan meluas ke sekitar 91,7 persen wilayah Kalimantan Selatan. BMKG juga mengingatkan adanya risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang perlu diantisipasi.

Ini merupakan tantangan serius yang harus dihadapi sektor pertanian. Banyak faktor yang bisa terpengaruh dan saling berkaitan dengan masalah ini. Ada persoalan air, cuaca, kondisi lahan, biaya produksi, sampai bagaimana petani menjual hasil panennya.

Kondisi ini harus diperhatikan dengan cermat karena Kalimantan Selatan sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat produksi pangan. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan luas panen padi sepanjang 2024 mencapai sekitar 246.112 hektare, meningkat 31.829 hektare atau 14,85 persen dibandingkan 2023. Hasil produksi sepanjang tahun 2024 jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk mencapai sekitar 609.172 ton, naik 91.132 ton atau 17,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan produksi padi tertinggi di Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan mencatat produksi padi provinsi ini pada 2024 mencapai sekitar 1 juta ton, meningkat 14,95 persen dibandingkan produksi sekitar 875 ribu ton pada 2023. Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi bertambahnya luas panen, program Gernas El Nino, optimalisasi lahan dan kondisi cuaca yang lebih mendukung pada 2024.

Kabupaten Banjar sendiri mempunyai potensi yang tidak kecil. Pemkab Banjar juga menempatkan sektor pangan sebagai salah satu sektor yang mempunyai peluang dikembangkan melalui investasi. Data Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu mencatat produksi padi daerah tersebut pada 2024 mencapai 147.593 ton.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa sawah di Kabupaten Banjar bukan hanya penting bagi masyarakat desa. Ada peran yang lebih luas dalam menjaga pasokan pangan daerah.

Dengan produksi sebesar ini, gagasan menjadikan Kalimantan sebagai salah satu penyangga pangan nasional bukan sesuatu yang mustahil. Tetapi angka produksi juga membawa pertanyaan mengenai bagaimana mempertahankannya ketika kondisi alam berubah? Bagaimana Petani berhadapan langsung dengan kemarau?

Jawaban pertanyaan ini bisa kita lihat di sawah Mali-Mali. Meskipun Petani tidak membaca grafik produksi atau laporan ekonomi ketika berada di tengah sawah, ketika kemarau semakin terasa, mereka melihat tanah, melihat tanaman dan memperhatikan air. Ketika kemarau semakin terasa, perhatian terhadap sumber air menjadi lebih besar. Kesiapsiagaan sangat penting karena petani tidak dapat mengetahui dari mana api akan datang. Lahan yang kering juga harus dijaga agar tidak menjadi titik awal kebakaran. Mereka harus memperhatikan apa saja hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran dan segera bertindak jika ada tanda-tanda api.

Dalam kondisi seperti ini, petani membutuhkan dukungan. Oleh karena itu penyuluhan pengelolaan lahan di musim kemarau, akses sumber air, peralatan serta informasi terkait cuaca menjadi semakin penting. Perlu koordinasi antara pemerintah desa, kelompok tani dan instansi ataupun lembaga yang menangani pertanian serta kebencanaan.

Bagaimanapun ketahanan pangan merupakan tujuan yang harus didukung secara bersama-sama, pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Jika kekeringan dapat membuat padi gagal panen apalagi jika sampai membuat sawah terbakar, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh petani, namun seluruh daerah juga terkena dampak berkurangnya produksi. Kemampuan masyarakat menjaga lahan merupakan faktor utama untuk mencapai tujuan ini, menjaga sawah pada musim kemarau merupakan bagian penting untuk menjaga rantai pangan.

Menanam padi tidak sesimpel soal menanam dan memanen, ada proses panjang di siklusnya. Bahkan ketika bulir padi sudah selesai dipanen, gabah perlu dikeringkan. Setelah itu disimpan, digiling, dikemas dan dipasarkan. Setiap proses membutuhkan biaya, teknologi dan tenaga kerja.

Jika Kalimantan benar-benar ingin didorong sebagai lumbung pangan nasional, maka perlu menjadi perhatian serius agar bagaimana hasil panen tersebut memiliki nilai ekonomis bagi petani. Petani membutuhkan fasilitas yang dekat dengan sentra produksi agar petani memiliki peluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil pertaniannya.

Pemkab Banjar melihat peluang tersebut tersebut melalui pengembangan investasi di sektor pascapanen. Pemerintah mencantumkan peluang pengembangan industri penggilingan padi terintegrasi, produk turunan beras, pengembangan dan penguatan merek beras lokal, hingga pembangunan fasilitas penyimpanan seperti silo dan sistem resi gudang dalam peta potensi investasi daerah.

Investasi pangan tidak selalu berarti berupa proyek-proyek besar. Mesin pengering gabah, gudang, alat pertanian, teknologi pengolahan, fasilitas pengemasan, hingga sistem pemasaran, merupakan bagian dari investasi yang dibutuhkan petani.Agar petani bukan hanya menjadi pemasok bahan mentahnya, sehingga bisa memperoleh margin keuntungan yang lebih besar dengan menjadi bagian dari rantai usaha pangan yang lebih panjang.

Dibalik foto seorang petani yang membungkuk mengumpulkan padi. Bukan hanya berarti ada petani yang berharap pekerjaan mereka mampu menghidupi keluarganya. Namun juga ada produksi pangan yang harus dijaga. Ada lahan yang harus dilindungi. Dan ada ancaman kemarau yang harus dihadapi.

Meskipun Kalimantan Selatan mampu menghasilkan pangan dalam jumlah yang besar, khususnya Kabupaten Banjar termasuk daerah dengan produksi padi tertinggi di provinsi ini. Namun capaian ini tidak boleh melupakan persoalan-persoalan yang dihadapi petani itu sendiri. Pembicaraan mengenai lumbung pangan nasional seharusnya dimulai dari hal yang paling dekat dengan petani: bagaimana air tersedia, bagaimana lahan tidak terbakar, bagaimana biaya produksi dapat ditekan, bagaimana hasil panen mempunyai harga yang layak dan bagaimana petani memperoleh akses terhadap teknologi.

Kemarau panjang tahun ini merupakan pengingat bahwa produksi pangan kita bergantung pada kondisi lingkungan. Dan untuk menghadapi ini, petani Mali-Mali bahkan sudah siap siaga dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap lahan kering dan potensi kebakaran. Mereka tahu, kehilangan sawah berarti kehilangan sumber penghidupan keluarganya.

Pada siang 30 Agustus 2026 itu, petani Mali-Mali tetap bekerja di bawah matahari. Padi dikumpulkan. Jerami tersisa di lahan. Sawah menunggu musim berikutnya. Di tempat yang mungkin terlihat jauh dari pusat kebijakan pangan nasional, pekerjaan sederhana itu terus berlangsung.

Di sanalah ketahanan pangan sebenarnya dimulai.

Sumber data: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan; Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Selatan; Pemerintah Kabupaten Banjar; DPMPTSP Kabupaten Banjar; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika/Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan. BS

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img