Kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah mendorong seorang mahasiswa Universitas PGRI Kalimantan, Muhammad Fadil, menggagas gerakan budaya bernama BAGASAKAN (Berbudaya Gasan Kita Sabarataan). Program tersebut hadir sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Banjar.
Muhammad Fadil yang saat ini berusia 21 tahun merupakan mahasiswa aktif semester VI di Universitas PGRI Kalimantan. Selain aktif di dunia akademik, ia juga dikenal sebagai sosok yang terlibat dalam berbagai kegiatan kepemudaan, kebudayaan, dan pengembangan diri.
Fadil pernah dipercaya sebagai Duta Kampus Universitas PGRI Kalimantan Tahun 2024. Saat ini, ia juga mengemban amanah sebagai Wakil I Nanang Kabupaten Tanah Laut Tahun 2025. Melalui peran tersebut, ia aktif mempromosikan serta mengembangkan budaya daerah kepada masyarakat.
Tidak hanya itu, Fadil juga aktif di dunia modeling dan telah mengikuti sejumlah kompetisi modeling tingkat nasional. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memperkenalkan potensi generasi muda dan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Di bidang kepemudaan, Fadil saat ini menjabat sebagai Ketua GIC Genre Indonesia Cabang Tanah Laut. Posisi tersebut dimanfaatkannya untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan generasi muda.
Berangkat dari kecintaannya terhadap seni tari dan musik tradisional, Fadil menggagas BAGASAKAN sejak tahun 2023. Gerakan ini lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menjaga eksistensi budaya lokal, khususnya budaya Banjar, agar tetap dikenal dan dicintai di tengah perkembangan zaman.
Melalui program tersebut, Fadil aktif memberikan edukasi budaya serta mengajarkan tarian tradisional Banjar kepada pelajar maupun masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berfokus pada pembelajaran gerakan tari, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas daerah yang terkandung di dalamnya.
Fadil mengatakan, BAGASAKAN hadir sebagai wadah bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan budaya daerahnya sendiri.
“Saya melihat masih banyak generasi muda yang sebenarnya memiliki minat terhadap budaya, tetapi belum mendapatkan ruang yang cukup untuk belajar dan berkembang. Karena itu, BAGASAKAN saya hadirkan sebagai gerakan yang tidak hanya mengajarkan seni tari, tetapi juga menanamkan rasa cinta, bangga, dan tanggung jawab terhadap budaya Banjar,” ujar Fadil kepada inikalsel.id, Rabu (3/6/2026).
Komitmen tersebut juga diwujudkan dengan membawa program BAGASAKAN ke tingkat provinsi melalui ajang Nanang Galuh Kebudayaan Kalimantan Selatan 2025. Dalam ajang tersebut, Fadil mewakili Kabupaten Tanah Laut sekaligus memperkenalkan BAGASAKAN sebagai gerakan pelestarian budaya yang berfokus pada edukasi, pemberdayaan generasi muda, dan penguatan identitas budaya daerah.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya sebatas mempertahankan tradisi, tetapi juga memastikan budaya tersebut tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga bagaimana kita menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingin generasi muda memahami bahwa budaya adalah identitas yang harus dijaga bersama. Jika bukan kita yang melestarikannya, lalu siapa lagi?” katanya.
Fadil berharap BAGASAKAN dapat menjangkau lebih banyak sekolah, komunitas, dan kalangan masyarakat sehingga semakin banyak anak muda yang terlibat dalam upaya pelestarian budaya.
“Harapan saya, BAGASAKAN bisa menjadi gerakan bersama yang menghubungkan pendidikan, kepemudaan, dan kebudayaan. Dengan begitu, budaya Banjar tidak hanya dikenal, tetapi juga dicintai dan diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi masa depan,” tutupnya.
Melalui BAGASAKAN, Fadil optimistis warisan budaya Banjar akan terus hidup dan menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia di tengah perkembangan zaman. Dede ![]()










