Di sebuah bengkel sederhana di kawasan Jalan Museum, dekat Museum Wasaka, suara dentingan besi masih terdengar nyaring. Asap tipis dari bara api dan percikan api yang menyala menjadi saksi ketekunan Abdullah, seorang pandai besi asli Nagara, Hulu Sungai Selatan, yang sudah puluhan tahun menekuni profesi warisan keluarga tersebut.
Abdullah mengaku keterampilannya sebagai pandai besi diwariskan langsung dari sang kakek sejak dirinya masih remaja. Hingga kini, ia tetap mempertahankan cara tradisional dalam menempa dan mengasah berbagai jenis senjata tajam maupun peralatan dapur.
“Dari dulu memang belajar dari kakek. Awalnya cuma membantu meniup bara api dan memegang alat, lama-lama bisa sendiri,” ujar Abdullah saat ditemui di tempat kerjanya, Senin (11/5/2026).
Meski zaman terus berubah dan peralatan modern semakin mudah ditemukan, Abdullah tetap setia dengan pekerjaannya. Menurutnya, banyak pelanggan masih mempercayai hasil asahan manual karena dianggap lebih tajam dan tahan lama.
Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas di bengkel miliknya mulai meningkat. Sejumlah warga datang membawa pisau, parang, hingga golok untuk diasah sebagai persiapan penyembelihan hewan kurban.
“Biasanya kalau mendekati Iduladha memang ramai. Banyak orang mengasah pisau dan golok supaya siap dipakai saat pemotongan hewan kurban,” katanya.
Dalam sehari, Abdullah bisa menerima puluhan bilah untuk diasah. Beberapa pelanggan bahkan datang dari luar kota karena sudah menjadi langganan sejak lama.
Selain jasa asah, Abdullah juga masih menerima pembuatan golok tradisional khas Banjar. Proses pengerjaannya dilakukan secara manual, mulai dari pembakaran besi, penempaan, hingga pendinginan di air.
Bagi Abdullah, menjadi pandai besi bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Ia berharap generasi muda masih ada yang tertarik mempelajari pekerjaan tersebut.
“Kalau tidak ada penerus, lama-lama bisa hilang. Padahal ini bagian dari budaya urang Banjar juga,” tuturnya.
Di tengah kesibukan kota dan perkembangan teknologi, keberadaan Abdullah menjadi pengingat bahwa warisan tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Denting besi dari bengkel kecil dekat Museum Wasaka itu pun terus hidup, menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi.Bs![]()










