Persembahan teater bertajuk “Seperti Apa Rasanya Luka” sukses digelar oleh Ekskul Teater Dua Pijar SMAN 2 Banjarmasin di Gedung Pertunjukan Balairungsari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Kayutangi, Banjarmasin, Sabtu (4/4/2026).
Pertunjukan ini menjadi media kampanye yang kuat untuk menyuarakan isu perundungan (bullying) yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah.

Sutradara sekaligus pembina Teater Dua Pijar, Muhammad Rifki, mengungkapkan bahwa proses produksi pementasan telah dipersiapkan sejak Desember 2025.
Ia menyebutkan, meskipun waktu latihan relatif singkat, para siswa mampu menunjukkan dedikasi tinggi hingga berhasil menampilkan pertunjukan perdana yang mengesankan di panggung besar.

“Alhamdulillah, anak-anak mampu menampilkan yang terbaik. Ini adalah pentas perdana mereka, dan dari proses beberapa bulan saja sudah terlihat kerja kerasnya hingga bisa tampil dengan performa seperti kemarin,” ujarnya.
Menurut Rifki, respon penonton terhadap pertunjukan ini sangat positif. Antusiasme tidak hanya datang dari kalangan pelajar, tetapi juga masyarakat umum yang turut hadir.
Ia menambahkan, apresiasi dan tanggapan dari para guru juga menunjukkan bahwa kualitas pertunjukan pelajar mampu bersaing dan layak diapresiasi, meskipun masih terdapat sejumlah catatan untuk pengembangan ke depan.
Pertunjukan ini melibatkan sekitar 12 hingga 15 pemain utama, dengan total keseluruhan kru dan pemain hampir mencapai 30 orang.
Rifki menilai capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat Teater Dua Pijar telah cukup lama tidak tampil di panggung Taman Budaya.
Secara pribadi, Rifki mengaku bangga dan terharu melihat capaian anak didiknya. Ia berharap pengalaman ini tidak menjadi akhir, melainkan awal dari perjalanan berkesenian mereka.
“Mudah-mudahan ini bukan menjadi penampilan terakhir. Teater harus bisa menjadi ruang refleksi, menjadikan diri lebih positif, dan belajar dari naskah yang diperankan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti tantangan dunia teater di era digital yang semakin tergeser oleh konten visual instan di media sosial. Namun demikian, Rifki optimistis teater masih memiliki tempat, khususnya di kalangan pelajar, selama terus dikembangkan dengan kreatif dan relevan.
Adapun pertunjukan ini mengangkat kisah Kinan, seorang remaja yang harus menghadapi luka ganda—perundungan di sekolah dan konflik dalam keluarganya. Dalam sinopsis karya tersebut, digambarkan bagaimana di balik potret keluarga yang tampak harmonis, tersembunyi realitas penuh tekanan yang harus dipikul seorang anak sendirian.
Melalui karya ini, Teater Dua Pijar tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga tuntunan yang menggugah kesadaran akan pentingnya empati, komunikasi dalam keluarga, serta penanganan serius terhadap kasus perundungan di lingkungan pendidikan. As![]()










