Di tepi jalan kawasan Pemakaman Muslimin Pelaihari, sebuah lapak kembang sederhana tampak ramai didatangi warga. Di sanalah Nurhaliza (59), yang dikenal dengan sebutan Acil Kembang Bramban, menggantungkan hidup dari usaha kembang Banjar yang kini ia jalani setiap hari.
Warga Desa Bramban Raya RT 20, Pelaihari, ini menceritakan kepada inikalsel.id, Senin (2/3/2026), bahwa usahanya bermula dari keterpaksaan saat pandemi Covid-19. Sebelumnya, ia berjualan makanan prasmanan di RTH Kijang Mas. Namun aturan ketat selama pandemi membuatnya harus berhenti berjualan.

“Saat itu bingung mau usaha apa,” ujarnya.
Dari kebingungan tersebut, Nurhaliza mencoba berjualan kembang di depan pemakaman dengan cara membeli dari pedagang lain lalu menjual kembali dengan keuntungan tipis. Awalnya ia hanya melayani kembang untuk ziarah makam.
Seiring waktu, banyak warga meminta dibuatkan kembang Banjar untuk pengantin dan berbagai upacara adat. Permintaan itu sempat tak bisa ia penuhi karena belum memiliki keterampilan merangkai. Namun Nurhaliza tak menyerah dan belajar secara otodidak hingga mampu membuat berbagai kreasi kembang Banjar.
Kini, untuk memastikan kualitas dan ketersediaan barang, Nurhaliza tidak lagi membeli kembang dari pedagang lain. Ia langsung mengambil pasokan dari agen kembang di Martapura.
Menurutnya, hanya mengandalkan penjualan kembang ziarah tidak cukup untuk meningkatkan pendapatan karena peziarah ramai hanya pada hari Jumat. Selain itu, ia juga harus bersaing dengan pedagang dari luar daerah.
Setelah mulai menerima pesanan kembang adat dan pengantin, lapaknya semakin dikenal. Ia pun memutuskan buka setiap hari.
“Kadang banyak warga mencari kembang tidak hanya untuk ziarah, tapi juga untuk upacara adat dan keperluan lain. Jadi saya jualan saja setiap hari,” katanya.
Pengalaman menarik juga pernah ia alami saat menerima pesanan mendadak dari Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto. Saat itu, ia diminta menyiapkan kembang dalam waktu singkat.
“Waktu itu permintaan dadakan, tapi alhamdulillah bisa saya selesaikan cepat,” tuturnya.
Nurhaliza, yang merupakan lulusan sekolah dasar, mengaku bangga karena keempat anaknya telah berhasil dan memiliki kedudukan di pemerintahan. Ia rela bekerja keras demi masa depan anak-anaknya.
“Biar saya cuma lulusan SD, anak-anak saya harus berhasil,” ucapnya.
Usahanya ia beri nama Acil Kembang Bramban, sesuai spanduk di lapaknya agar mudah diingat pelanggan. Kini ia tak lagi berjualan sendiri. Beberapa karyawan turut dibantunya, bahkan ada yang memiliki stand sendiri di lokasi yang sama.
“Kasihan dia cari pekerjaan, jadi saya ajak saja jualan kembang. Anak saya juga ada yang ikut jualan di sebelah,” tuturnya sambil tersenyum.
Dari keterpaksaan akibat pandemi, usaha kecil itu kini menjadi sumber penghidupan sekaligus membuka peluang bagi orang lain di sekitarnya. Kisah Acil Kembang Bramban menjadi contoh bagaimana ketekunan dan kemauan belajar bisa mengubah keadaan. Dede![]()










