28 C
Banjarbaru
Selasa, Februari 3, 2026
spot_img

“Nyawa Lebih Berharga dari Foto”: Tips Fotografer Iman Satria untuk Mahasiswa yang Memotret Demo

Fotografer jurnalis, Iman Satria, menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan saat mengabadikan momen demonstrasi. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Mahasiswa Memotret Aksi Mahasiswa” yang digelar di gedung Social Science Laboratory, FKIP ULM, Selasa (3/2/2026).

Di hadapan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, fotografer pemenang penghargaan nasional asal Banjarmasin ini memberikan peringatan keras terkait risiko di lapangan.

“Sebagus apa pun hasil foto yang didapatkan, tidak akan lebih berharga dari selembar nyawa kita,” tegas Iman.

Berdasarkan pengalamannya memotret berbagai aksi massa, Iman menjelaskan bahwa identitas dan posisi fotografer sangat krusial. Ia menyarankan agar fotografer selalu mengenakan kartu pengenal (ID Card) dan memperkenalkan diri kepada pihak keamanan maupun massa aksi sejak awal.

“Penting bagi petugas keamanan dan mahasiswa untuk mengetahui kehadiran kita. Kita harus memperlihatkan diri sejak dini agar mereka tahu tugas kita di sana. Jangan sampai keberadaan kita dianggap asing atau mencurigakan,” terangnya.

Selain identitas, Iman juga memaparkan teknik menentukan posisi aman, baik saat berada di barisan belakang aparat maupun di belakang massa mahasiswa. Melalui presentasi puluhan foto karyanya, ia menunjukkan bahwa sudut pandang (angle) dari ketinggian tertentu tidak hanya menghasilkan visual yang estetik, tetapi juga lebih aman bagi fotografer.

Situasi lapangan bisa berubah cepat dari kondusif menjadi tegang. Oleh karena itu, Iman menyarankan mahasiswa untuk tidak bekerja sendirian saat terjadi kericuhan atau aksi saling dorong.

“Sejatinya, fotografer itu tidak bekerja sendiri. Setidaknya perlu ada dua orang dalam posisi berdekatan agar bisa saling melindungi satu sama lain,” tambah Iman.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Learning and Action Integration Laboratory ini juga dihadiri oleh Kepala Laboratorium, Nasrullah. Doktor Antropologi lulusan UGM tersebut menjelaskan bahwa dokumentasi aksi adalah bukti sejarah yang penting bagi perjuangan aspirasi mahasiswa.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, Rochgiyanti, yang menyatakan dukungannya terhadap kegiatan literasi visual semacam ini. Ia memastikan agenda diskusi dengan berbagai topik menarik lainnya akan terus dilaksanakan secara rutin untuk membekali mahasiswa. Stn

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img