Pulau Sewangi yang terletak di antara selat Pulau Laut Kotabaru dan Pulau Kalimantan di Kecamatan Batulicin Tanah Bumbu memiliki daya tarik dan potensi wisata dan budaya yang sangat eksotis. Panorama alam di pulau ini sangat indah dan khas. Pulau ini juga menyimpan kearifan lokal yang menarik untuk dilestarikan dan dijadikan bahan kajian ilmiah.
Hanya perlu waktu 20 menit untuk tiba di pulau ini menggunakan angkutan kapal dari Batulicin. Jika speedboat tentu lebih cepat. Suasana asri dan semilir angin menyambut saat tiba di dermaga yang terbuat dari kayu. Kicau satwa menjadi daya pikat selain landscape hijau dipadankan biru laut yang khas. Dari pulau ini kita dapat memandang suasana pemukiman kecamatan Batulicin dan kecamatan Simpang Empat.

Pulau ini hanya dihuni oleh 19 kepala keluarga (KK), inprastruktur yang terbatas menjadi alasan utama pemukiman tak berkembang, selain status hutan yang merupakan hutan lindung. Meski demikian dulunya secara administratif pulau ini merupakan desa di bawah Kecamatan Batulicin.
Belakangan satu tahun terakhir barulah ada keleluasaan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang memberikan beberapa titik lokasi untuk dijadikan hutan wisata.
Pulau ini menyimpan potensi wisata yang tak kalah unggul dari objek wisata lain di Bumi Bersujud. Dengan adanya kapal wisata, semakin membuka lebar dikembangkan menjadi objek wisata bahari. Sekaligus alternatif pilhihan rekreasi bagi masyarakat di Kalimantan Selatan.
Pulai ini juga menyimpan khasanah cerita rakyat yang seru. Selain cerita kearifan lokal yang belum terdokumentasi secara baik. Dari mulut ke mulut memang tersiar namun belum ter-arsip-tuliskan.
Melihat potensi tersebut, Kominutas Pegiat Gambar (Kopiambar) Bacarita bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) serta Pemerintah Kelurahan Batulicin menggelar program Anjangsana Literasi. Program ini mengekspolari potensi wisata dan budaya yang ada di pulau ini.
Program ini berlangsung dua hari yakni Sabtu dan Minggu, 17 hingga 18 Januari. Hampir 100 peserta terlibat. Peserta dari kelompok penulis lokal, komunitas fotografi, jurnalis, pokdarwis dan birokrat.
Serangkaian kegiatan dilaksanakan yakni, eksplorasi potensi wisata dengan meninjau, merekam, dan memetakan potensi wisata. Mengeksplorasi budaya dengan menggali cerita budaya melalui tokoh adat. Mengunjungi situs-situs budaya salah satunya batu badinding yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai gerbang menuju alam ghaib.
Peserta melakukan diskusi dengan menghadirkan tokoh masyarakat setempat, yakni H Sarwani keturunan ke-4 dari tetua kampung, yang juga merupakan ketua adat. Peserta juga menampilkan kesenian tradisi yakni tari, musik akustik tradisi Banjar dan bakesah bahasa Banjar.
Peserta juga membuat konten kreatif yang bakal menjadi wahana publikasi guna mempromosikan daya tarik Pulau Sewangi. Peserta juga menerbangkan kamera udara untuk meng-capture gambar dari arah atas sekaligus membuat pemetaan pulau.
Sekretaris Dispersip Akhmad Fitriadi, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari litreasi. Karena tidak hanya melakukan kajian namun juga langsung mempraktekannya. Peserta dapat langsung melakukan kajian dan menuangkannya dalam karya, baik tulisan maupun konten digital.

“Kegiatan ini sangat menarik. Selain mengekplorasi kita juga berwisata. Ini sangat menyenangkan. Terik matarahari tak menghalangi antusias kita, ini sudah risiko berkegiatan di alam terbuka,” ujarnya saat membuka acara secara resmi.
Lebih lanjut Akhmad Fitriadi mengapresiasi antusias peserta. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan yang memajukan literasi terlebih jika memberi dampak langsung seperti program anjangsana literasi yang diharapkan dapat memajukan pulau sewangi.
Yuli Fahrina salah satu peserta asal kecamatan Satui, mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Menurutnya kegiatan ini bukan hanya memberi efek rekreatif namun memberi inspirasi.
“Saya sebagai penulis pemula merasa menemukan banyak inspirasi dengan mengikuti program ini, mengunjungi pulau Sewangi. Semoga bisa melahirkan karya,” ujar Yuli Fahrina yang juga merupakan pengurus Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Bzak![]()









